“Bli, tyang rela kalau bli harus mencari istri baru demi mencari sentana, penerus keluarga ini. Tapi diolas bli, ceraikan tyang. Tyang tidak sanggup dimadu bli” Sore itu Gede Adi tengah ngopi di pondok sambil terngiang kata-kata Ni Luh Sekar. Sepanjang malam, setiap hari. Pedih hati Gede mendengar curahan hati istrinya. Tak sanggup ia menjawab kala itu. Matanya sudah lebih dulu membentuk kolam kecil yang siap mengalir apabila diberi celah sedikit saja. Teringat ketika pertama kali ia jatuh cinta pada Ni Luh. Istrinya itu adalah anak seorang polisi. Bapaknya sering dipindah tugaskan ke daerah-daerah pelosok seperti Papua dan Sumbawa. Iluh dulu bersekolah dasar yang sama dengan Gede Adi. Mereka berada di desa yang sama tapi lain Banjar. Namun ketika kelas 4 SD Ibu Ni Luh meninggal dunia karena lama sakit, yang Ni Luh sendiri tidak paham apa sakitnya. Beberapa bulan kemudian bapaknya berangkat ke Papua, diajaknya Ni Luh bersamanya. Ni Luh adalah anak satu-satunya. Tanpa Ibu dan keluarga...