"Ibu! Ibu!" Anak sulungku memegang pundakku untuk memberikan kenyataan yang menurutnya sangat hebat. "Iya sayang?" "Tau ga bu? "Apa?" "Pak Yan bisa minum kopi lho!" Jeda yang ku berikan di antara matanya yang berbinar membuatku sadar bahwa ini adalah hal yang luar biasa baginya. Karena orangtuanya adalah orang dewasa yang bukan peminum kopi. Baginya, Kopi adalah minuman pahit yang hanya diminum oleh mereka para pemberani. Kopi pahit. Ia memang sangat lugu, yang ia tahu, kopi hanyalah pahit. Tidak ada rasa lain selain pahit dan pekat. "Ah, begitu," responku datar. Ia masih berbinar. "Hebat kan!" lanjutnya, berharap aku akan mengubah reaksiku. Aku hanya mengelus kepalanya dan tersenyum geli. Dulu aku juga minum kopi. Seorang peminum kopi di hari minggu pagi sambil membaca komik dan beberapa biskuit. Hingga asam lambung datang. Aku lupa kapan tepatnya aku mulai minum kopi. Mungkin bukan di rumah. Karena orangtuaku juga ...
Hanya sebuah ruang untuk merindu