Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2020

Covid19: Conspiracy by Nature

  “I thought 2020 would be the year I get everything I want. Now I know 2020 is the year I appreciate everything I have.”  – Simon J. New Earth Cooking    When we heard about Covid19, what comes to mind? A deadly virus? Broken economy? Your job? Conspiracy? Hmmm,  maybe. How the media wrote about Covid19 in Indonesia is wasting my energy and creating so much worry. They tell us all perspectives and opinions that they made but not the truth and fact. It made us worry more than we should. And also they highlight the number of dead victims, making us focus on how deadly this virus can be. Especially if you are living in the “traditional” community who don’t read more about the pros and cons of Coronavirus, they will easily believe that it is super truly dangerous. Even some kids in my neighborhood taught me when you see the victim of corona you will get sick and die. That’s how bad the parents told their kids in my village. I tried to tell the kids my perspective. ...

Kerikil ku sayang.

 Apakah semua orangtua akan menerima anaknya apa adanya? Seperti orangtuaku yang mencintaiku seada nya aku. Seperti ibuku yang pernah berkata betapa bangganya ia kepada anak-anaknya, walau kami masih berupa kerikil yang belum diasah. Yang mungkin kalau diasah pun takkan pernah menjadi berlian. Sudut pandang ini sangat tidak bisa aku mengerti, sampai akhirnya aku melahirkan putraku sendiri. Yang ketika dia tersenyum saja seluruh hidupku seakan akan baik-baik saja. Ku banggakan ia dengan prestasi yang belum ia miliki. Aku mencintainya. Mungkin seperti orangtuaku mencintaiku. Cinta seperti ini yang sedang aku butuhkan. Ku harap aku akan selalu mencintai anakku seperti ini. Dan tidak memberikan beban berlebihan atas egoku.

2013

 Malam ini tanggal 16 Januari 2013, malam berbintang yang begitu indah. Adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa aku bisa berselimut hangat malam ini. Sudah lewat berhari-hari lamanya tanggal 12 Desember 2012 itu, hari-hari yang disangka buruk. Jauh-jauh hari sebelumnya seluruh umat manusia di bumi merayakan akan berakhirnya dunia. Bulan-bulan sebelumnya banyak terjadi nikah masal, bulan madu masal bahkan perayaan-perayaan lainnya. Para pencuri mencuri sepuasnya, sebagian bertobat. Para pendeta berdoa sepanjang malam, sisanya berburu perawan. Para penghuni tahanan dibebaskan, pemerintah berhenti korupsi malah berbalik berderma, sudah bosan katanya. Murid-murid diliburkan sepanjang tahun, tak ada yang mesti dipelajari kalaupun ada juga buat apa?? Toh kiamat sudah dekat. Para PNS berhenti bolos, mereka mengaku bosan makan gaji buta. Saudagar teramat kikir pun cuci gudang, juga buat apa disimpan?? Makan-makan di taman kota sepanjang malam, mereka berpelukkan, bergandengan tangan tuk ...

Meloncatlah dan Kau Akan Terkenal?!

 Pagi itu layaknya pagi-pagi biasanya. Langit cerah, matahari masih terbit di timur dan kopi tubruk ini masih terasa nikmat di lidah. Koran pagi tak pernah sampai di tanganku, ah itu biasa karena ku bangun terlambat lagi dan Koran itu sudah terbawa ayahku ke kantor. Ibu? Ah jangan bicarakan ia yang sudah tenang di Surga. Hanya anjing putih ku yang baru pulang pagi ini, sedang meringkuk di bawah meja makan. Ada yang ku lupakan? Tidak ada, ku harap. Pagi yang cerah, pagi yang sepi… Ah tidak jadi! Di luar mendadak ramai, seperti semut yang baru menemukan gula. Seperti fakir miskin mendapat sembako, seperti mahasiswa putus asa dengan skripsi nya lalu ambil alternative lain yaitu berdemo, seperti… ah sudahlah hentikan pengandaian bodoh itu! Aku ikut berlari keluar rumah, ingin tahu artis siapa yang lewat. Sandal sudah tidak di kaki, agar lebih mempercepat lariku maka sandal itu ku selop kan di tangan dan sekarang pertanyaannya adalah pentingkah ku bawa sandal itu? Di TKP terjadilah perc...

SEPEDA KIAMAT

 Seminggu yang lalu ayahku membawa sepeda merah yang mungil ke rumah.  Katanya ini sepeda baru, baru dibelinya di loak.  Aku dan sepeda itu mulai berteman.  Kami mulai belajar untuk saling memahami, saling menghargai dan saling menikmati jalan.  Namun karena sepeda itu adikku minggat dari rumah, karena sepeda itu ibuku menangis seharian, karena sepeda itu ayahku hancurkan rumahku seketika.  Ah sepeda itu sepeda kiamat.  Saking kesalnya sepeda itu ku bakar saja.  Biar sajalah ayahku meraung, biar sajalah rumahku lantak.  Maka tetap ku bakar saja sepeda itu.  Biar tak ku dengar marah ayahku maka ku bakar saja sepeda itu.  Bersama diriku di dalamnya! 19 November 2009 (gie, 104 kata)

Keadilan Semu

 Kalau seseorang menuntut kebenaran atas lawan yang main curang, apakah ia akan dikatakan iri? Tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Jika masih ada campur tangan manusia, tidak akan ada salah dan benar. Yang ada hanyalah perspektif. Hanya menunggu Tuhan yang mengadili. Di akhirat. Di dunia yang berbeda.

WAJAH

 Jika aku harus melihat wajahku di cermin. Ada wajah lain yang sedang menatapku. Wajah yang bukan milikku. Hanya sebuah wajah yang familiar dengan kenangan. Hanya wajah yang selalu ku rindu. Bagaimana ya cara menjelaskannya? Hanya raut serupa ibuku.

RINDU

 Rindu itu begitu indah dan menyiksa. Aku tidak tau ada sebuah kata yang memiliki dua makna begitu kontras hingga hari ini. Rumah ini sudah tak muat lagi menampung rindu yang kian hari kian membuncah Rindu ini meluap, hingga berserakan ke halaman rumah. Tiap pagi ku sapu remahan rindu. Takut ada banyak semut yang ingin membawanya pulang. Aku hanya sedang memakan apel sendirian, tapi rindu ini tiba-tiba datang. Lalu besok sepertinya aku harus menyapu lagi.

RUMAH

 Aku ingin menjadi rumah bagi anak-anakku. Meski penuh dengan lumpur. Walau letih dan berpeluh. Aku ingin mereka tak takut pulang. Aku ingin selalu menerimanya. Memeluknya dengan kehangatan. Aku ingin menjadi rumah bagi anak-anakku. Menjadi orang terakhir yang menghakiminya.

Merangkul Rindu

Ku sering membingkai senyumnya di anganku. Menerka-nerka bagaimana aroma tubuhnya dulu. Mengira-ngira seberapa pekat warna matanya. Aku takut lupa,  Bagaimana caranya berbicara padaku. Mengapa ia selalu berkata seperti itu kepadaku. Sering pula bertanya-tanya. Jika nanti kami bertemu di Surga, apakah ia akan masih mengingatku? Satu-satunya cara supaya beliau tenang di alam sana adalah dengan berjanji bahwa aku akan selalu bersyukur dan bahagia dalam situasi apapun. Jadi beginilah caraku merindukanya.

Yth. Tuhan

 Kepada Tuhan, Ku titipkan kedua orang tuaku di sisimu. Untuk kau jaga dan kau kasihi. Di dunia aku berpeluh, Di pangkuanmu aku mengeluh, Jangan sampai kedua orang tua ku tau, betapa melelahkannya semua ini. Terkadang betapa mengerikan tiap harinya. Sampaikan saja senyum dan candaku Segala suka dan cita ku Biar mereka di sana bahagia  Walau hanya mendengar lewat doa.