"Ibu! Ibu!" Anak sulungku memegang pundakku untuk memberikan kenyataan yang menurutnya sangat hebat. "Iya sayang?" "Tau ga bu? "Apa?" "Pak Yan bisa minum kopi lho!" Jeda yang ku berikan di antara matanya yang berbinar membuatku sadar bahwa ini adalah hal yang luar biasa baginya. Karena orangtuanya adalah orang dewasa yang bukan peminum kopi. Baginya, Kopi adalah minuman pahit yang hanya diminum oleh mereka para pemberani. Kopi pahit. Ia memang sangat lugu, yang ia tahu, kopi hanyalah pahit. Tidak ada rasa lain selain pahit dan pekat. "Ah, begitu," responku datar. Ia masih berbinar. "Hebat kan!" lanjutnya, berharap aku akan mengubah reaksiku. Aku hanya mengelus kepalanya dan tersenyum geli. Dulu aku juga minum kopi. Seorang peminum kopi di hari minggu pagi sambil membaca komik dan beberapa biskuit. Hingga asam lambung datang. Aku lupa kapan tepatnya aku mulai minum kopi. Mungkin bukan di rumah. Karena orangtuaku juga ...
Bagaikan layang-layang putus. Terkesan bergegas. Padahal tidak tahu harus pulang pada siapa. ---- Aku ingin pulang. Aku tak tahu apa pun tentang rumah. Yang ku tahu, aku lahir di Bumi Utara. Di jalan aku bertanya arah jalan pulang. "Teruslah di jalan ini. Jalannya akan berliku. Kelak kau kan melewati dua bukit dan menyusuri hutan. Lewati dua danau. Maka di sanalah Utara, pulang yang kau maksud." Lalu aku pun pergi, Ke Utara. Ke arah yang ia maksud. Dengan sedikit tersesat, Dan sedikit menggigil di tengah kabut. Aku akhirnya pulang. Pada rumah yang dulu kau huni. Pada pasir hitam yang kau pijak. Lalu aku sadar bahwa pulang yang selama ini ku maksud selama ini bukanlah Utara, Tetapi kau. Kau yang menyambutku penuh lega, Kau yang membuatkanku sup jagung, Kau yang membacakan buku terakhir yang kau baca, Kau yang tak pernah menanyakan kabarku, Sebagai gantinya, kau yang selalu berseru seberapa bahagianya aku. Kau adalah pulang yang kumaksud. Kau adalah rumah yang selama ini kubang...