Skip to main content

Posts

Tidak Ada Kopi Tidak Apa-apa

  "Ibu! Ibu!" Anak sulungku memegang pundakku untuk memberikan kenyataan yang menurutnya sangat hebat. "Iya sayang?" "Tau ga bu? "Apa?" "Pak Yan bisa minum kopi lho!" Jeda yang ku berikan di antara matanya yang berbinar membuatku sadar bahwa ini adalah hal yang luar biasa baginya. Karena orangtuanya adalah orang dewasa yang bukan peminum kopi. Baginya, Kopi adalah minuman pahit yang hanya diminum oleh mereka para pemberani. Kopi pahit. Ia memang sangat lugu, yang ia tahu, kopi hanyalah pahit. Tidak ada rasa lain selain pahit dan pekat.  "Ah, begitu," responku datar.  Ia masih berbinar. "Hebat kan!" lanjutnya, berharap aku akan mengubah reaksiku. Aku hanya mengelus kepalanya dan tersenyum geli.  Dulu aku juga minum kopi. Seorang peminum kopi di hari minggu pagi sambil membaca komik dan beberapa biskuit. Hingga asam lambung datang. Aku lupa kapan tepatnya aku mulai minum kopi. Mungkin bukan di rumah. Karena orangtuaku juga ...
Recent posts

Pulang

Bagaikan layang-layang putus. Terkesan bergegas. Padahal tidak tahu harus pulang pada siapa. ---- Aku ingin pulang. Aku tak tahu apa pun tentang rumah. Yang ku tahu, aku lahir di Bumi Utara. Di jalan aku bertanya arah jalan pulang. "Teruslah di jalan ini. Jalannya akan berliku. Kelak kau kan melewati dua bukit dan menyusuri hutan. Lewati dua danau. Maka di sanalah Utara, pulang yang kau maksud." Lalu aku pun pergi, Ke Utara. Ke arah yang ia maksud. Dengan sedikit tersesat, Dan sedikit menggigil di tengah kabut. Aku akhirnya pulang. Pada rumah yang dulu kau huni. Pada pasir hitam yang kau pijak. Lalu aku sadar bahwa pulang yang selama ini ku maksud selama ini bukanlah Utara, Tetapi kau. Kau yang menyambutku penuh lega, Kau yang membuatkanku sup jagung, Kau yang membacakan buku terakhir yang kau baca, Kau yang tak pernah menanyakan kabarku, Sebagai gantinya, kau yang selalu berseru seberapa bahagianya aku. Kau adalah pulang yang kumaksud. Kau adalah rumah yang selama ini kubang...

Surat Untuk Galuh

Yang tersayang, Galuh. Apakah kau yang kemarin malam hadir di mimpi ibu? Anak kecil dengan poninya yang manis. Tangan mungilmu mengamit erat tangan ibu dan kita bergandengan tangan entah ke mana waktu itu. Waktu itu, ibu kaget, "Tangan mungil siapa ini?" Tetapi senyum manismu kala itu membuat ibu tau. Beberapa kali, seingat ibu, kau datang ke mimpi. Sungguh menyenangkan melihat anak perempuan dengan rambut diikat dua mengenakan dress bunga-bunga sesekali mengisi mimpi ibu yang biasanya terisi mimpi buruk. Wajahmu seperti kakak-kakak laki-lakimu. Hanya saja rambut dan dress itu membedakanmu. Membuat ibu berpikir, itu adalah kamu. Bukan sekadar anak perempuan yang datang sembarangan. Tetapi kamu, itu kamu, Galuh. Galuhku sayang, Mungkin karena ibu sering mendambakanmu, membawamu ke alam bawah sadar hingga kau muncul ke mimpi sebagai bunga mimpi. Manis sekali Galuh, kesayangan Ibu. Di dalam mimpi, entah apa yang kita lakukan pada saat itu, dan sepertinya kita sangat bahagia. Kau...

Si Cantik dan TV

Dulu ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang Cinta pertama ayahku. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak menyedihkan untuk anak SD yang percaya bahwa cinta pertama harus berlangsung selamanya. Aku sedih untuk ayahku. Tapi aku sedih juga untuk ibuku. Rasa sedih ini datang bersamaan dengan kekhawatiran, apakah ayahku bahagia walaupun ia tidak berakhir bersama cinta pertamanya? Begitu juga dengan ibuku, apakah ia sedih karena ternyata ia bukan cinta pertama ayahku? Seakan-akan seluruh pikiranku diterjemahkan ke wajahku. Bibi-bibiku malah semakin menggebu-gebu menceritakannya. Seakan-akan ini adalah sinetron terkini yang sedang tayang di salah satu saluran TV swasta yang tidak boleh aku lewatkan. Aku hanya menganga dan membiarkan kisah cinta pertama itu melaju lancar ke telingaku. Ayahku mencintai seorang wanita di seberang lautan. Ayahku, dengan vespa merahnya melaju dari Bali Utara ke Kota Mataram, Lombok. Jika ...

An Unfinished Story

You and I, we have a story that remains unfinished. Back then, I believed that none of it was true. You were the truth. When the whole world said you were wrong, I believed you were right. You convinced me. Yet when I asked you to tell the world that you were right, you went silent—and then disappeared. That was when I was shattered and felt betrayed. You had lied to me, and you had betrayed my trust. You even left me alone in a world that judged me. Time has passed. We meet again. I still smile at you. And you smile back at me. Without awkwardness, without hesitation. But deep inside, I keep my guard up. We chat as if on top of a graveyard of our buried past. You hope that by burying the truth, peace will grow again—like before. But my brother, what you plant is what you shall reap. That afternoon, we sat in a circle. When they began to strip you bare with tales from the past that were not yet over, I, too, wanted to hear the truth. I wanted to know what really happe...

Cerita Yang Belum Selesai.

Kau dan aku, punya cerita yang belum selesai. Kala itu aku percaya bahwa semua itu tidak benar. Kau adalah benar. Ketika seluruh dunia berkata kau salah, aku percaya kau benar. Kau meyakinkan ku. Ketika ku ajak kau untuk menyampaikan ke seluruh dunia bahwa kau benar, kau malah bungkam, lalu menghilang. Di sanalah aku terpukul dan merasa terkhianati. Kau telah membohongiku dan mengkhianati rasa kepercayaanku. Bahkan kau meninggalkanku sendirian di dunia yang menghakimiku. Lama sudah semua berlalu. Kita bertemu lagi.  Aku masih tersenyum padamu. Kamu pun tersenyum padaku. Tanpa kecanggungan dan keraguan. Dengan mode waspada yang ku hidupkan di belakang alam bawah sadarku. Kita bercengkrama di atas kuburan masalalu yang ingin kita sembunyikan. Kau berharap dengan mengubur kebenaran ini, maka akan tumbuhlah kedamaian lagi. Seperti dulu. Tetapi kawan, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai. Siang itu kita duduk melingkar. Ketika mereka mencoba untuk menelanjangimu. Dengan cerita ...

Berkelahi dan Menang

  “Dia selalu begitu” Kata suamiku, yang tengah membicarakan kenalan kami yang seringkali dia dapati sedang senyum-senyum sendiri ketika sedang mengendarai motor. Suamiku menganggap hal itu lucu dan kerap bercerita dengan nada setengah mengejek. Awalnya aku ikut tertawa, lalu merenung.  “Bukankah kita semua seperti itu?” gumamku.  “Seperti apa maksudmu?” tanya suamiku.  “Memangnya, ketika kita mengendarai motor seorang diri, tanpa teman. Apa yang kamu lakukan sepanjang perjalanan? Kamu ga ngobrol sama dirimu sendiri?” Suamiku sedikit menaikkan alis di sebelah kanan “Aku biasanya bernyanyi atau memikirkan nanti siang makan apa, atau tentang pekerjaan” “Sepertinya dia juga seperti itu, sedang mengkhayal” “Tetapi kenapa sambil senyum-senyum begitu?” ejek suamiku “Karena kami para wanita lebih ekspresif taauu!” Kataku bangga, sambil melanjutkan suapan nasiku. Petang ini kami makan di luar, ya makan di teras. Sedangkan anak-anakku yang sudah selesai makan tengah bermain d...