Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2025

Berkelahi dan Menang

  “Dia selalu begitu” Kata suamiku, yang tengah membicarakan kenalan kami yang seringkali dia dapati sedang senyum-senyum sendiri ketika sedang mengendarai motor. Suamiku menganggap hal itu lucu dan kerap bercerita dengan nada setengah mengejek. Awalnya aku ikut tertawa, lalu merenung.  “Bukankah kita semua seperti itu?” gumamku.  “Seperti apa maksudmu?” tanya suamiku.  “Memangnya, ketika kita mengendarai motor seorang diri, tanpa teman. Apa yang kamu lakukan sepanjang perjalanan? Kamu ga ngobrol sama dirimu sendiri?” Suamiku sedikit menaikkan alis di sebelah kanan “Aku biasanya bernyanyi atau memikirkan nanti siang makan apa, atau tentang pekerjaan” “Sepertinya dia juga seperti itu, sedang mengkhayal” “Tetapi kenapa sambil senyum-senyum begitu?” ejek suamiku “Karena kami para wanita lebih ekspresif taauu!” Kataku bangga, sambil melanjutkan suapan nasiku. Petang ini kami makan di luar, ya makan di teras. Sedangkan anak-anakku yang sudah selesai makan tengah bermain d...

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...