Skip to main content

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata "Kanggeang, rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu"

Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah suamiku di kampung, aku kaget karena kita menawari makanan pada siapapun yang berkunjung ke rumah. Walaupun mereka datang di pagi-pagi buta ketika kita belum memasak tetap saja harus berkata "Ngajeng dumun driki". 

Walaupun sama-sama orang Bali, aku merasa ini sangat basi. Di Singaraja, kami biasanya tidak menawari makanan, tetapi bertanya "Sama siapa ke mari? Sendiri saja?" atau kalau tamu itu sudah ada di ruang tamu dan sudah berbincang-bincang dengan saudara atau orangtua mu, kita akan berkata "Sudah dari tadi?"
Di rumahku di Singaraja, kami tidak menawari mereka mau minum apa, tapi kami sudah datang bersama minuman apapun yang kami punya di dapur. Entah apakah si tamu tidak minum kopi, teh atau puasa, kami tidak peduli. Tetap kami serbu dengan apapun yang kami punya di rumah.

Aku sering berkata pada suamiku, "Bagaimana bisa kita menawari makanan ke orang lain padahal di rumah kita belum tentu ada makanan?"
"Yah mereka tau itu cuma basa basi, pasti mereka menolak kan" jawab suamiku santai.
"Bagaimana kalau ada yang setuju untuk makan bersama?" Tanyaku kritis.
"Biasanya tidak ada yang seperti itu. Tapi kalau ada, kan kita tinggal belikan makanan di warung sebelah" lanjut suamiku. 

Ah benar, sesederhana itu. 

Kenapa aku sangat kritis untuk sekedar basa basi semacam ini. Padahal aku sendiri orang Indonesia. Basa basi itu sudah mendarah daging. Tidak seperti orang-orang barat, ketika bertemu, basa basi mereka adalah cuaca. Yah kami tidak bisa melakukannya, karena cuaca kami biasanya begini-begini saja. Kalau tidak panas, ya hujan, atau mendung. 

Jadi, ketika tamu suamiku dalam perjalanan ke toilet, ia bertemu dengan anak-anakku, Putu dan Made, yang hanya bengong melihat mereka dan tidak menyapa apapun. Sedangkan si tamu ini menyapa ramah "Halo, lagi main apa kalian?" dan Putu menjawab sekenanya. Aku memang butuh 8 tahun pernikahan untuk luwes dengan basa-basa di Tabanan. Bahkan sekarang pun kalau ada ujian dalam basa basi, mungkin aku harus remidi. Lalu anak-anak ini bahkan belum genap 6 tahun hidup di dunia ini tapi bagiku ini tidak bisa dibiarkan. Sopan santun harus diajarkan sedini mungkin. Supaya dia tidak linglung seperti ibunya ini.

Made, anak keduaku sudah ku ajari berkata "Sugra" ketika ia menendang kepala kakaknya, Putu. Menurutku sopan santun adalah hal pertama yang kita miliki sebagai anggota masyarakat di dunia. 

"Kalau ada orang datang ke rumah kita, pastikan kalian menyapanya. Ucapkan Om swastyastu. Lalu tawarkan makanan. Sampun ngajeng pak de" Kataku kepada dua anak laki-lakiku yang satu berumur 6 tahun dan satu lagi 2 tahun. Aku duduk di sofa dan mereka berdiri tegap sejajar dengan kepalaku. Terkadang aku mendidik mereka seakan-akan mereka akan ikut ke medan perang besok. Setiap ada komando mendadak seperti saat ini. Mereka akan berdiri tegap dengan kedua tangan mengepal sejajar dengan lutut dan mata menatapku. Tidak boleh menunduk, apalagi sambil menonton TV. Tamatlah mereka. 

"Ngerti Putu?" dibalas dengan anggukan anak tertuaku.
"Made ngerti?" dibalas dengan gelengan anak bungsuku yang nyaris membuatku tertawa. Made memang belum fasih bicara. Tapi dia sangat lucu. Aku sangat suka mengobservasi tingkah lakunya. Apapun yang dia lakukan dan katakan ingin ku rekam. Adikku pernah bertanya apa mungkin Made perlu di terapi karena di usia 2 tahun seharusnya dia sudah bisa bicara satu kalimat lengkap. Aku tahu, tetapi kenapa aku masih ingin menikmati kelucuan ini lebih lama.

"Made, coba bicara Om Swastyastu" aku mencontohkan anakku sambil mencakupkan kedua tanganku di dada.
"Om tatu" kata Made sambil mencakupkan kedua tangannya di depan mulutnya.
"Bukan tatu, tapi Su Was Tyas Tu" kataku sambil menurunkan kedua tangannya ke dada.
"Om Tiatu"
Ah sudahlah..

Sejak saat itu aku sering melihat Made "berlatih" menyapa tamu yang datang. Ia akan naik ke atas sofa untuk membuka kenop pintu. Lalu turun dari sofa untuk membuka pintu lebar-lebar sambil mencakupkan tangannya di depan dagunya sambil berkata "Om Tiatu"
Lucu sekali. Gemas rasanya melihat bayi ini berlagak menjadi tuan rumah seakan-akan sedang menyapa tamu. Sering ia menyapa "tamu-tamu" khayalannya. 

Ketika suamiku pertama kali mendapati adegan itu, dia bengong dan heran "Apa yang Made lakukan?"
Sambil tertawa aku berkata "Dia sedang berlatih menyapa tamu"

Suatu petang ketika aku sedang metanding segehan kliwon di dapur, Made menangis frustasi karena tidak bisa membuka pintu. Saat itu pintu aku kunci karena Putu dan suamiku belum tiba di rumah, mereka sedang latih tanding sepak bola. Mungkin akan tiba saat jam makan malam. Aku menengok ke ruang tamu dan membantu Made membuka pintu. Ia tersenyum girang ketika pintu terbuka. Rasanya ini yang dimaksud orang-orang tentang bahagia itu sederhana.
Made turun dari sofa dan mencakupkan tangan mungilnya di bawah dagu sambil berkata "Om tiatu" dengan riang. Lalu ia menatapku seakan-akan menghakimiku. Ah akupun mengerti maksudnya, mengapa aku tak turut menyapa "tamu"nya. Aku menarik nafas dalam-dalam sambil menahan diri supaya tidak terlihat tersenyum mengejek dan mencakupkan tanganku di dada "Om swastyastu"
Made tersenyum bangga seakan-akan sudah berhasil mendidik ibunya.
Lalu aku bertanya iseng "Memangnya, siapa yang datang?"
Ia menjawab girang "Tutak"
Aku setengah tertawa dengan heran "Tutak?"
Made menunjuk ke foto keluarga yang diambil di hari pernikahanku sambil terus berkata "Tutak"
Tutak? Tupekak. Kakek anak-anakku. Ayahku. Yang tidak pernah ia temui karena ayahku meninggal beberapa bulan sebelum Putu lahir. Senyumku perlahan hilang dan keringat dingin mengalir di tengkukku. Aku harap suamiku segera pulang.


Oktober 2025

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...