Skip to main content

2013

 Malam ini tanggal 16 Januari 2013, malam berbintang yang begitu indah. Adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa aku bisa berselimut hangat malam ini. Sudah lewat berhari-hari lamanya tanggal 12 Desember 2012 itu, hari-hari yang disangka buruk. Jauh-jauh hari sebelumnya seluruh umat manusia di bumi merayakan akan berakhirnya dunia. Bulan-bulan sebelumnya banyak terjadi nikah masal, bulan madu masal bahkan perayaan-perayaan lainnya. Para pencuri mencuri sepuasnya, sebagian bertobat. Para pendeta berdoa sepanjang malam, sisanya berburu perawan. Para penghuni tahanan dibebaskan, pemerintah berhenti korupsi malah berbalik berderma, sudah bosan katanya. Murid-murid diliburkan sepanjang tahun, tak ada yang mesti dipelajari kalaupun ada juga buat apa?? Toh kiamat sudah dekat. Para PNS berhenti bolos, mereka mengaku bosan makan gaji buta. Saudagar teramat kikir pun cuci gudang, juga buat apa disimpan?? Makan-makan di taman kota sepanjang malam, mereka berpelukkan, bergandengan tangan tuk mengenang malam-malam yang disangka takkan ada lagi ini. Presiden, bupati, guru, dokter, gelandangan, pecundang, seniman, pendeta bahkan sampah sama saja malam itu, sama-sama duduk di taman itu, menikmati bulan dan bintang terakhir. Semua orang bertobat, mengelu-elukan Tuhan, tak ada yang mencaci mengapa 12 Desember 2012 mesti ada!! Tak sempat tuk menghujam Tuhan, semua sedang bertobat, sibuk berbuat baik biar kursi VIP di surga available buat mereka. Malam berganti pagi, siang datang dan kembali malam, orang-orang bosan berpesta, para pasangan muda enggan bercinta hingga hari ini 16 January 2013 kiamat itu tak tampak batang hidungnya (itupun kalau ia punya hidung hehe). Esok 17 January 2013, akan terjadi cerai masal.


(Cheesay, 205 kata)


4 Desember 2009


Hepi b’de mum!!!


 

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...