Skip to main content

TINGGALKAN KOMANG DI SINI

 “Bli De, Bli De…”


Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap ke jendela kamarnya. Sudah hampir dua hari Made Arya tak pulang ke rumah dan sejak saat itu Gek Istri hanya melihat keluar dari jendela kamarnya, memandangi awan yang berarak membentuk berbagai macam bayangan seperti benda-benda yang dikenalnya.


Kemarin gumpalan awan membentuk bebek yang berenang, kepala kuda, kuping gajah dan banyak lagi! Gek Istri bertepuk tangan riang, ia bagaikan anak kecil tumben pergi ke kebun binatang saja.


Dan hari ini awan membentuk wajah Komang, wajah Gek Istri takjub lalu berseri-seri


 “Mang, Komang!”


Komang yang lucu, berkulit eksotis, manis sekali. Gek Istri membelai rambut hitamnya. Sudah lama ia tak mengecup ubun-ubun Komang. Dulu hampir setiap pagi Gek Istri akan mengelus Komang dahulu bahkan sebelum membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.


Komang itu adiknya Made Arya, baru dikenalkan setelah mereka memadu kasih selama 3 bulan. Gek Istri sempat kaget sekali ketika pertama kali bertemu dengan Komang, karena Bli Made sangat berbeda dengan Komang yang mungil dan pemalu. Bli Made perawakannya kekar dan wajahnya tegas, sedangkan Komang manis sekali dan sayu seakan-akan ingin tertidur sepanjang hari.


Made sangat menyayangi Komang, kemana-mana ia selalu diajak. Made memperkenalkan Komang pada banyak wanita tapi tak ada satu pun yang benar-benar memikat hatinya sampai ia bertemu dengan Gek Istri, hingga Komang menyetujui pernikahan Bli-nya dengan gadis menak itu.


Ketika pertama kali melihat Gek Istri di Pasar Kalibukbuk, Komang-lah yang memberi tahu Made Arya tentang keberadaan gadis berkulit kuning itu. Komang tak mampu menahan diri betapa ia terpesona ketika gadis itu membelai rambut panjangnya sambil sesekali menyentuh-nyentuh timun di depannya dan menawar harga dengan pedagang.


Komang menarik-narik Made bagai anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh bapaknya. Permen itu kali ini cantik sekali, sepertinya kalau digigit, manis tubuhnya akan lumer di lidahnya. Komang tak pernah menginginkan permen manapun tapi ia berpikir jika gadis ini adalah permen yang diinginkan kakaknya, si Made Arya. 


Made Arya perlahan turun dari sepeda motornya, melepaskan helm dan mengambil kunci motornya dengan mata yang masih melekat pada Gek Istri. Matanya bertualang dari rambut hitam Gek Istri sampai berlalu lalang di seputaran bibirnya yang merekah bagai delima masak. Made Arya berjalan lurus ke arah di mana Gek Istri sedang berbelanja. Saking lurusnya, Made berkali-kali tak sengaja menambrak rombong bakso dan dadong-dadong penjaja buah.


“Aduhh, ampura, Bu! Ampura!”


Walau sambil minta maaf tapi mata Arya masih tak ingin kehilangan sosok ranum Gek Istri yang sedang berpindah ke penjual daging ayam. Langkah dramatis Made Arya yang mendekati Gek Istri membuat Komang tegang. Ia ingin bersembunyi tapi ia tak sabar ingin mengintip pula apa yang akan terjadi. Komang sangat tidak tahan dengan adegan-adegan semacam ini, tubuhnya menjadi keras menegang karena gugup.


Pada malam Purnama sasih ke dasa, ketika seluruh keluarga besar Puri Agung bersembahyang di merajan, Made Arya melarikan Gek Istri. Selendang perada Gek Istri terjatuh di hadapan Ratu Betara Dewa Banaspati, seakan-akan beliau tak sanggup menahan Gek Istri, tak sanggup memisahkan tuan putrinya dari laki-laki titisan Arjuna itu. Pada malam itu juga, ketika penyeroan Gek Istri sudah tak mampu menemukannya di sekitaran Puri, dengan sambil menangis Dadong Taman bersimpuh menghadap Ratu Gung Biang hingga setelah mengungkapkan sebaris kalimat Ratu Biang pingsan seketika.


Setelah menikah selama dua tahun tanpa restu kedua orang tua Gek Istri, hubungan suami istri mereka tak lagi harmonis, apalagi romantis. Made belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang bercinta dengan banyak gadis. Mencicip sana sini.


Dua hari yang lalu ketika malam tanpa bintang, Gek Istri menatap suaminya yang menghadap ke cermin yang cukup besar untuk memuat seluruh bayangnya di sana. Gek Istri mencoba acuh sambil melipat selimut.


“Mau ke mana, Bli?”


 Laki-laki itu tak menjawab terus bersiul-siul pelan sambil menyisir rambutnya yang pekat. Ia mendesah pelan, lalu duduk dengan selimut masih di dekapannya.


“Mau menemui siapa, Bli?”


Made Arya membenarkan kerah kemejanya kemudian berpaling ke meja sambil mengemasi dompet dan mengenakan jam tangannya.


“Aku tak pulang malam ini, jangan tunggu aku,” ujar Made hambar tak menatap Gek Istri. 


“Bli akan menemui wanita itu lagi?” suara Gek Istri meninggi,


Made menolehnya tapi tak bergeming


“Oh maaf, maksudku wanita-wanita itu!” ralat Gek Istri sambil tersenyum sarkastik


“Bukan urusanmu, dan pelankan suaramu,” Made mencari-cari jaketnya di lemari sambil mengumpat


“Kenapa bukan urusanku? Aku istrimu, Bli!” Gek Istri mengikuti langkah Made, kemudian suaminya berbalik menghadapnya


“Kamu sudah tahu kan aku akan ke mana, pelankan suaramu sebelum orang tuaku terbangun,” kata Made geram. Orang tua Made Arya, Pan Merta dan Men Merta tinggal bersama mereka di rumah mungil ini.


“Baiklah, tapi jangan ajak Komang,” suara Gek Istri memelan


“Kamu sudah gila? Aku tak bisa tinggalkan Komang hanya berduaan denganmu!”


“Mengapa begitu? Aku takkan membiarkan Komang menemui wanita-wanita sundal itu!”


 “Kamu gila!” Made mengancingkan jaketnya dengan kesal lalu menuju pintu.


“Bli De, tinggalkan Komang bersamaku!”


“Tidak akan!” Made menepis tangan Gek Istri dan menghempaskannya ke kursi.


“Bli De!! Tinggalkan Komang di sini!” teriak Gek Istri histeris.


Tiba-tiba petir menggelegar lalu hujan lebat berjatuhan, Gek Istri dengan berlinang air mata masih memeluk kursi menoleh ke jendela.


“Oh… jadi aku tak usah menangis ya,” kata Gek Istri sambil menyeringai perlahan.


Tuhan memang seniman yang sangat luar biasa, pelukis ulung. Langit adalah kanvasnya, awan menjadi catnya dan kuasnya adalah angin. Setelah puas melihat-lihat galeri lukisan-Nya, Gek Istri menggelung rambut panjangnya sambil menatap suaminya di atas tempat tidur. Rambut hitam Gek Istri yang tipis dan berkilau itu adalah warisan Ratunini Oma.


Dulu rambutnya sering diminyaki dengan akar tumbuhan yang digoreng untuk diambil minyaknya. Wangi rambutnya istimewa, ketika mencium harumnya maka kau bagaikan berada di hutan yang penuh dengan kayu-kayu besar. Rambut itu adalah satu-satunya warisan yang ia dapat dari keluarganya yang kaya raya, penguasa gumi Utara.


Pada pagi yang masih buta Made Arya datang dengan kepala sempoyongan dan bergumam yang tidak-tidak. Ia langsung berbaring di tempat tidur dan terlelap hanya dengan hitungan detik. Gek Istri pelan-pelan mengemasi kain-kain dan selendangnya, ia sudah hendak pergi lalu berbalik lagi.


“Ah, hampir aku melupakan Komang..” bisik Gek Istri.


Dengan berjingkat, dengan kaki-kakinya yang membisu, ia menggenggam Komang, tak ingin membangunkannya.


Made Arya terbangun dengan keadaan pening dan lemas, rasanya seluruh tubuhnya habis terkoyak badai. Tak seletih ketika ia pulang tadi pagi. Ada bagian yang perih. Ia merintih sambil mencoba bangkit dari tidurnya


 “Aduh..duh…!”


Sudah dua hari dua malam Made Arya berpesta dengan teman-teman wanitanya. Mabuk-mabukan semalam suntuk dan bercinta sampai larut. Pantas saja ia merasa badannya sangat lelah dan pedih. Made Arya perlahan membuka matanya dan berusaha bertumpu pada sikunya, sementara tangan kanannya mencoba memegang apa saja di dekatnya.


Sambil mengumpat pelan, Made berhasil meraih meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur tapi tak sanggup menggerakkan kakinya. Setelah menggeser pinggulnya, hampir saja Made terjatuh. Matanya meloncat. Ia melihat darah segar yang sempat mengalir ke ujung kakinya mulai mengering.


Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang selama ini begitu perkasa di pangkal pahanya. Made meraba-raba dengan kasar dan kontan saja berteriak. Benda tumpulnya yang berharga telah direnggut oleh benda tajam.


“Arghhh! Komaannggg…!”


Pan Merta dan istrinya berhamburan ke kamar Made.


“Ada apa De? Ada apa?”


Wajah Meme-nya pucat pasi ketika melihat darah di tempat tidurnya.


“Darah siapa itu?” Meme bertanya dengan histeris.


“Komang hilang, Me! Tadi dia ada di sini!” Made berteriak menjadi-jadi dan hampir menangis.


“Siapa Komang?” Bapa tak mengerti tapi mencoba melepaskan sprai tempat tidur untuk membungkus Made yang berdarah.


“Adikku!”


 “Tapi kamu tidak punya adik, De!”


Mei-Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...