Skip to main content

Gandhi dan Tunininya



"Grandmothers hold their grandchildren in a special place in their hearts."
- Catherine Pulsifer



Gandhi dan Tunininya, dua sosok yang sangat misterius pertemuannya. Aku selalu bertanya-tanya apakah mereka pernah bertemu? entah di mana, entah kapan. Yang ku yakini mereka pasti pernah bertemu.
Kalau tidak, bagaimana mungkin ia terdengar begitu akrab dengan Tunininya.

Tahun 2019, adalah tahun pertamaku menjadi seorang ibu dan pula tahun pertamaku kehilangan seorang ibu.

Gandhi dan Tunininya. Ada persamaan diantara mereka berdua. Yaitu mereka lahir di tanggal dan bulan yang sama. Teringat ketika dokter memberikan hari perkiraan lahir yang terus mundur. Sejak diperkirakan lahir tgl 23 November lalu mundur lagi hingga tanggal 29 November. Di telepon ibu berharap "Semoga mundur terus nggih, sampai di ulang tahun ibu. Supaya kita bisa berulang tahun bersama-sama" siapa sangka celoteh itu diwujudkan Tuhan dengan cara yang ajaib.

Gandhi, ketika pertama kali melihat foto Tunininya, seakan-akan telah kenal lama. Seperti sudah sering bercengkrama. Apakah benar begitu? ataukah hanya perasaan dan halusinasiku saja. Hanya Tuhan, Gandhi dan Tunininya yang tahu.

Gandhi dan Tunininya, selain lahir di tanggal yang sama. Mereka juga pergi ke pantai yang sama, rumah yang sama dan ruangan yang sama. Hanya saja mereka tidak pernah berpijak bersama-sama.

Gandhi. Setiap ku perhatikan tingkah dan celotehnya, Ku teringat pada Tunininya, seandainya saja ia di sini melihat betapa lucu cucunya. Apakah ia akan tertawa? 

Tunininya. Setiap ku lihat fotonya dan kenangan di Facebook, ku teringat pada Gandhi, seandainya saja ia tahu betapa unik Tunininya. Apakah ia akan tertawa?

Ah iya, Gandhi dan Tunininya. Mereka memang pernah bertemu. Tunininya mengelus Gandhi ketika masih di perutku dan berkata "Kenak-kenak nggih Gandhi" dan meninggal keesokan harinya.

Selamat ulang tahun Gandhi dan Tunininya, IGAN Ari Wilasti.
Love you as always.

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...