One of the greatest gifts adults can give - to their offspring and to their society - is to read to children.
- Carl Sagan -
Kalau tidak salah, pertama kali aku mengenal Mahabharata adalah ketika aku berumur 11 tahun. Mungkin aku telah mengenal Mahabharata sebelumnya, tetapi, 21 tahun yang lalu telah menyentuh hatiku. Bahkan jika aku mendapat amnesia, aku akan masih mengingatnya.
Aku belajar Mahabharata, khususnya tentang Panca Pandawa ketika mendapat pelajaran agama Hindu di sekolah dasar. Bahkan aku yang saat itu berumur 11 tahun, sangat terkesima dengan jalan ceritanya. Sangat menarik bagaimana Pandawa bertahan hidup di pengasingan selama bertahun-tahun jauh dari kerajaan Indraprasta karena kakak tertua Panca Pandawa, Yudistira kalah berjudi.
Saat itu aku sangat menyalahkan Yudistira, sangat kecewa bagaimana ia bisa mempertaruhkan kerajaan, saudara-saudara dan istrinya terlepas dari ia di tipu oleh Sengkuni dan kakak beradik Korawa. Aku 21 tahun yang lalu tidak bisa menerimanya.
Waktu itu pula aku percaya bahwa Arjuna pastilah seorang pangeran yang sangat rupawan. Walaupun aku yang sekarang berpikir Arjuna mungkin tidak setampan itu tetapi ia memiliki jiwa pemikat wanita.
Baiklah sejujurnya aku yang sekarang tidak begitu ingat bagaimana detail ceritanya karena sudah lama tidak membacanya. Tetapi aku ingat, sepulang sekolah setelah pelajaran Agama aku mendatangi Ajik dan bercerita tentang betapa serunya Mahabharata. Keesokan harinya Ajik membelikan ku kitab Mahabharata yang berwarna pink. Mungkin karena waktu aku masih gadis kecil jadi Ajik berpikir untuk memberikan Mahabharata bercover pink. Manis sekali.
Sejak itu, aku terus membaca, membaca dan membaca. Hingga kitab Mahabharata yang setebal kamus Oxford itu tuntas. Itu adalah pertama kalinya Ajik, ayahku menyadari minat bacaku. Ajik dan aku merasa terhubung melalui Mahabharata.
Kemudian kami mulai membicarakan buku ini, membeli buku itu bersama, menghadiahkan buku kepada satu sama lain bahkan menggunakan kaus yang sama bertuliskan "Sang Pembaca".
Aku mulai bercita-cita bahwa Ajik harus bercerita tentang Mahabharata kepada anak-anakku kelak. Mereka harus mengenal Mahabharata dari Atupekaknya. Karena mereka harus melihat betapa hebat Tupekaknya ketika bercerita dan membaca.
Gandhi dan Tupekaknya, aku sangat menyayangkan pertemuan mereka yang tidak mungkin. Pupuslah cita-citaku untuk melihat Gandhi di pangkuan Tupekaknya. Berdongeng.
Gandhi, ingin sekali ku perkenalkan pada Tupekaknya. Supaya ia lebih mengenal tupekaknya dibandingkan ia mengenal Albert Einstein.
Tupekaknya, ingin ku perkenalkan pada Gandhi. Biar tupekaknya melihat betapa lucunya ia ketika membolak-balikkan tiap halaman sebuah buku.
Hilanglah harapanku tentang ajik yang membacakan Mahabaratha kepada Gandhi. Aku hanya menumpuk harapanku melalui buku-buku yang kubelikan atas nama Tupekaknya. Seakan-akan tupekaknya mengirimkan buku-buku itu dari Surga.
Lalu, melalui buku-buku inilah mereka bertemu.
Comments
Post a Comment