Ada suatu masa di mana kau bertemu dengan seseorang yang akan kau hormati seperti Bendera di hari Senin.
Kau tahu setiap tingkahnya seperti ulat bulu di daunan. Menggelikan. Dan setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya seperti sampah. Yang harus kau pilah-pilah sebelum di daur ulang.
Seluruh perilaku dan perkataannya seperti dua ujung jalan yang tidak pernah bertemu. Berkata tapi tak berkaca. Membuat matamu memandangnya tetapi alam bawah sadarmu meludah.
Akan sangat mudah memang menghindari dan tidak menghiraukan orang-orang semacam ini. Aku bahkan sangat pintar mengabaikan mereka.
Tetapi akan ada saat kau berada di kondisi di mana telinga dan matamu adalah untuknya. Kau dipaksa untuk menjejalkan sampah-sampah itu ke telingamu dan mengotori matamu dengan tingkah-tingkahnya yang gatal.
Ketika kau semakin besar ada yang namanya "Etika" yang patut dijaga oleh orang dewasa dan ada juga yang disebut "Sopan Santun" di mana kau harus belajar mengikat lidahmu, kalau-kalau nanti kau bertemu dengan orang-orang yang bisa kau sebut brengsek.
Aku secara pribadi, sepertinya belum benar-benar bertemu dengan salah satu dari yang ku sebutkan diatas. Hanya saja social media dan curahan hati orang lain membuatku seakan-akan sudah pernah bertemu. Eh entah, mungkin memang pernah.
Makanya kelak mungkin kau bahkan harus menghormati mereka. Seperti ku yang menghormatinya layaknya bendera di tiangnya di hari Senin pagi.
"Aku menghormatimu seperti bendera di tiangnya pada hari Senin pagi. Dengan rambut klimis dan kepang yang manis. Keringat mengalir pelan di pelipis tapi aku masih hormat. Kaki sudah kaku dan punggung telah lelah tapi aku masih menengadah menantang matahari.
Jika pemimpin upacara sudah memberi komando, kau hanyalah bendera di tiangnya pada hari Senin pagi. Karena jika Selasa datang, kau tahu aku akan bagaimana kepadamu."
Comments
Post a Comment