Skip to main content

Bendera di Hari Senin

Ada suatu masa di mana kau bertemu dengan seseorang yang akan kau hormati seperti Bendera di hari Senin.

Kau tahu setiap tingkahnya seperti ulat bulu di daunan. Menggelikan. Dan setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya seperti sampah. Yang harus kau pilah-pilah sebelum di daur ulang.

Seluruh perilaku dan perkataannya seperti dua ujung jalan yang tidak pernah bertemu.  Berkata tapi tak berkaca. Membuat matamu memandangnya tetapi alam bawah sadarmu meludah.

Akan sangat mudah memang menghindari dan tidak menghiraukan orang-orang semacam ini. Aku bahkan sangat pintar mengabaikan mereka.

Tetapi akan ada saat kau berada di kondisi di mana telinga dan matamu adalah untuknya. Kau dipaksa untuk menjejalkan sampah-sampah itu ke telingamu dan mengotori matamu dengan tingkah-tingkahnya yang gatal.

Ketika kau semakin besar ada yang namanya "Etika" yang patut dijaga oleh orang dewasa dan ada juga yang disebut "Sopan Santun" di mana kau harus belajar mengikat lidahmu, kalau-kalau nanti kau bertemu dengan orang-orang yang bisa kau sebut brengsek.

Aku secara pribadi, sepertinya belum benar-benar bertemu dengan salah satu dari yang ku sebutkan diatas. Hanya saja social media dan curahan hati orang lain membuatku seakan-akan sudah pernah bertemu. Eh entah, mungkin memang pernah.

Makanya kelak mungkin kau bahkan harus menghormati mereka. Seperti ku yang menghormatinya layaknya bendera di tiangnya di hari Senin pagi.

"Aku menghormatimu seperti bendera di tiangnya pada hari Senin pagi. Dengan rambut klimis dan kepang yang manis. Keringat mengalir pelan di pelipis tapi aku masih hormat. Kaki sudah kaku dan punggung telah lelah tapi aku masih menengadah menantang matahari.

Jika pemimpin upacara sudah memberi komando, kau hanyalah bendera di tiangnya pada hari Senin pagi. Karena jika Selasa datang, kau tahu aku akan bagaimana kepadamu."


Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...