Setiap hari kau harus berterimakasih padaku karena telah menikahimu. Karena aku juga.
- Be my Soulmate -
Sering ada pertanyaan yang tiba-tiba mencuat dalam percakapan keseharian kami "Eh kok kita bisa nikah ya?" jawabannya bisa berbeda-beda setiap saat. Tergantung siapa yang bertanya dan bagaimana langit waktu itu.
Tapi pertanyaan ini kebanyakan dilontarkan oleh suamiku, dan aku menjawabnya begini.
Tahun lalu "Karena kamu terlalu cinta sama aku"
Bulan lalu bisa "Karena aku cinta sama kamu"
Minggu lalu "Karena aku ga punya pilihan lain"
Dua hari yang lalu jawabannya "Karena aku tau kamu bakal seperti hari ini"
Ku akui kami adalah pasangan yang absurb. Setelah 5 tahun berlalu, kami lupa kalau kami sudah lama berpacaran. Lalu bingung apakah lanjut ke pelaminan atau mengakhirinya saja.
5 tahun sudah tapi kami belum mengenal orang tua satu sama lain. Setiap hari hanya tentang aku, dia dan berkeliling dengan vespa.
Setelah galau selama 2 tahun, aku akhirnya memutuskan untuk menunggu kematian bersamanya. Aku tidak pernah ragu dengan dalam cintaku padanya, begitu juga sebaliknya. Tidak sama sekali. Tetapi kebimbangan ini karena aku mencintai laki-laki lain juga selama ini, yaitu ayahku.
Pernah ku katakan pada suamiku dulu "Jika ajik tidak menyetujui pernikahan kita, aku akan mematuhinya dan merelakanmu. Karena bagiku ajik adalah segalanya"
tapi ia berkata "Kenapa ga nikah sama ajik mu aja sekalian?" itu hanya lelucon, tapi itu benar.
Ajik adalah laki-laki kaya raya yang telah membiayai seluruh egoku selama ini. Memenuhi hidupku dengan cinta dan mengajarkan kemanusiawian dalam mencintai. Bahwa cinta tidak hanya tentang kebahagiaan, kesabaran dan harapan-harapan indah yang kau tanamkan di kepalamu. Tapi tentang kekecewaan, kepedihan dan kepenatan. Karena nyatanya yang paling kita cintai yang paling mampu melukai.
Singkat cerita, aku ingin bersama kekasihku tetapi tak ingin kehilangan ajikku, matahariku.
Lalu tibalah hari di mana kami berdua bertemu ajikku, membiarkan ia melihat seberapa besar cinta dan harapan kami untuk bersama. Supaya ia bisa memutuskan apakah kami "pantas" bersama.
Kami mengerti dengan keadaan ini. Ibu bahkan pernah berkata, "Andai saja kalian memiliki "nama" yang sama, pasti sudah lama kami nikahkan". Ada jurang yang mesti dijembatani dan cinta saja tidaklah cukup. Maka kami harus bergandengan tangan, berlari bersama dan mengambil langkah besar untuk meloncatinya.
Ku sangka matahari yang selama ini menerangi hidupku akan menguapkan cinta kami, nyatanya sinarnya begitu hangat. Ku kira ku takkan bisa memeluk mereka berdua sekaligus. Ku pikir aku akan kehilangan salah satunya jika ku harus memilih. Namun aku lupa bahwa ajikku adalah ajik. Orang yang menginginkan kebahagiaanku diatas tetek bengek fanatisme dan tradisi. Orang yang meraih tanganku dan membuka gerbang kebebasan untukku.
Aku bersyukur ajik adalah ajikku dan ibu adalah ibuku.
Akhirnya aku memutuskan untuk mempercayakan sisa hidupku pada suamiku karena saat itu aku yakin ia mencintaiku, setidaknya untuk saat ini. Aku tidak yakin dengan masa depan karena masa lalu pernah menyayat kepercayaanku dengan suatu hubungan. Tapi aku percaya saat ini ia mencintaiku, besok akan ku tanyakan lagi dan ku katakan lagi betapa aku mencintainya sampai ia lelah mencintaiku lalu sisanya kita pikirkan nanti.
Aku bersyukur ia memilih untuk jatuh hati padaku. Ia adalah laki-laki yang kerap menamparku dengan kenyataan jika aku terlelap lama dalam mimpiku.
Ia adalah laki-laki yang menyiapkan bahunya untuk mendekapku, kalau aku jatuh karena terlalu tinggi berkhayal.
Ketulusannya membuatku mabuk, tapi anehnya ia pula penawarnya.
Jadi begini, aku telah mendaki dua bukit. Melewati panas dan dingin perjalanan selama 7 tahun untuk menjadikannya suamiku. Jadi menurutku, aku berhak mendapatkan yang baik.
Nol, langit cerahku. Aku punya banyak cinta untukmu.
Walaupun harus mengarang alasannya setiap hari, aku sanggup.
Ps. Aku penasaran apakah surat yang ku kirimkan pada ajikku 5 tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk "lari" ke pelukan kekasihku sudah berhasil meyakinkan ajikku tentang besar cinta dan keinginanku untuk bersama dengan kekasihku.
Entah jika ia bisa membacanya dengan baik, karena seingatku separuh kertasnya basah karena air mata.
Aku tidak tahu sebelumnya jika menyatakan cinta mesti membutuhkan banyak air mata dan tekad.
Comments
Post a Comment