Aku masih takjub ketika bisa menceritakan tentang kehilangan atas kedua orang tuaku dengan tanpa beruraian air mata.
Bahkan dengan senyum dan tawa.
Padahal saat itu rasanya langit akan runtuh, dunia terasa terbelah dan kaki ini lemas.
Tak bisa ku katakan betapa air mataku tak kunjung berhenti mengalir dan semua rasanya hampa.
Walau aku tahu bahwa mereka telah damai bersama makhluk yang paling ku percaya di dunia ini, Tuhan tetapi tetap saja hatiku perih dengan perpisahan ini.
Ribuan malam penuh haru tentu tidaklah cukup untuk melunasi duka ini.
Kemudian, ketika air mataku mulai mengering.
Aku bangun dari masa kelam yang membungkusku.
ku tepuk pundakku.
"Sudahlah"
Comments
Post a Comment