Skip to main content

Manusia Edisi Terbatas di Dunia

 "Apakah kamu anaknya pak Agung Brawida?" 

Seperti itulah kemiripanku dengan ajikku hingga orang-orang akan segera menyadari bahwa aku adalah anak ayahku hanya dengan melihat wajahku bahkan tanpa mengetahui namaku. Kami semirip itu. Tidak heran beberapa orang sering berkata "Kamu mirip ayahmu" dan kadang ku jawab "Tidak, ayahku yang mirip aku"

Tubli ku juga sangat mirip ajik, banyak orang salah mengira ia adalah ajikku tapi aku tidak setuju karena aku merasa ajikku lebih ganteng.

Mungkin ajik tidak menyadari bahwa aku adalah pemujanya. Ia adalah cinta pertamaku. Standar kegantenganku ada pada raut ajikku. Aku merasa sangat manusiawi ketika bersama ajik.  Aku bisa sangat mencintainya dan bisa sangat membencinya. Dan aku tak pernah ragu menunjukkannya padanya.

Aku memuja suara ajikku. Aku bisa mendengarkan ceritanya di meja makan sepanjang siang. Bukan hanya karena betapa cerdasnya ia ketika berbicara atau betapa menarik caranya menceritakan sebuah buku atau apapun tetapi karena suara ajikku sangat ajaib dan nyaman di dengarkan. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Tapi dari suaranya tidak tersimpan dusta. Jika ia marah, terdengar dari nada suaranya. Jika ia senang, tersimpan suka di dalamnya. Suaranya sangat jujur. Jika ajik mulai bernyanyi, dunia ini bukan dunia ini lagi.

Selain suaranya, aku juga memuja tulisannya. Menurutku, tulisan tangan ajikku sangat berkelas. Tulisan tangannya besar dan tegak bersambung. Tipe seseorang yang senang menulis dengan pulpen. Ia memang bukan penikmat mesin ketik atau keyboard. Sangat menyebalkan jika ia mulai mengetik di Word, Microsoft Office karena kalau tidak adikku pasti aku yang akan bolak-balik memperbaiki ketikannya setiap 5 menit sekali. Ajik suka menulis dan memiliki note book tempat ia mencurahkan ide, puisi dan lagu-lagu karangannya. Aku sering membelikan ajik buku dengan catatan ajik harus membelikanku buku juga. Karena ketika ajik membelikanku buku, aku akan menunggu tulisan tangannya di halaman pertama. Ia akan menuliskan namaku, tanggal diberikan buku itu dan betapa manisnya aku selama ini menjadi putrinya atau betapa cintanya ia padaku.

Aku juga menyukai cara berpakaian ajikku. Kami berdua adalah tipe cuek dan memiliki selera yang aneh dalam berpakaian. Jangan paksa aku untuk menyebut nama ibuku di sini karena beliau adalah seseorang yang membenci cara berpakaian kami. Ibu akan menyebut kami "kampungan" dalam berpakaian, ibu benar dan kami tetap melanjutkannya. Ajik adalah pendukungku ketika ku mulai merobek celana jeansku dan memakai sepatu kanvas penuh coretan cat. Aku suka cara ajik nyaman dengan pakaiannya dan seluruh kemeja itu sangat tampan ketika dipakai ajik. Ah mungkin karena ajik memang tampan dan postur tubuhnya bagus membuat pakaian itu hanyalah selembar kain.

Perhatiannya adalah salah satu yang ku puja juga. Ia sangat perfectionist. Tipe bos sekali. Ia sangat memperhatikkan detail sebuah hal. Apapun yang ajik pajang di rumah atau kamarnya akan terlihat sangat artistik. Dulu aku senang ke kamar ajik untuk melihat-lihat apa ada yang baru. Ke kamar ajik itu rasanya seperti mengunjungi museum atau pameran lukisan. 

Selera musiknya patut ku masukkan juga ke dalam daftar pujaan. Ajik penikmat The Beatles, John Denver, The Bee Gees dan masih banyak lagi. Sepertinya ajik benar-benar ingin menulariku dengan selera musiknya karena ia sering mencekokiku dengan musik-musiknya. Ia sering menyanyikanku lagu-lagu di masa kuliahnya. Mempraktikkan bagaimana dulu ia menjadi vokalisnya, bagaimana gitaris waktu itu memainkan gitarnya dan bagaimana drummer memainkan stik nya lalu lengkap dengan reaksi penonton di saat itu. Luar biasa, aku sekilas seperti melihat full band di meja makan.

Di atas semua ini, aku sangat menyukai pola pikir dan selera humornya. Ajik bisa sangat tenang seperti hutan di malam hari dan bisa meledak seperti kembang api di tahun baru. Selera humornya bisa sangat tinggi dan mendadak receh. Tapi aku tidak jarang tertawa karena humor ajik, humornya tidak seperti humor bapak-bapak kebanyakan. Pola pikir ajikku sering out of the box yang unik dan ajaib. Ia juga tipe pengkhayal yang akan mewujudkan impiannya, memikirkan jauh ke depan tetapi tetap memperhatikan kerikil di ujung kakinya. Ajik adalah manusia terbatas yang diciptakan oleh Tuhan.

Ah, hampir ku lupa. Pengetahuan dunia dan geografis ajikku sangat luar biasa menurutku. Beliau hapal negara-negara beserta ibukota di seluruh dunia. Ia mengenal banyak tokoh dunia dan para sastrawan dunia dengan baik seakan pernah kenal dekat. Sebelum ku mengenal Google, ajik ku sudah sehebat itu. Ia membuatku bangga dengan kemampuan bahasanya juga tidak kalah luar biasa. Makanya ketika ku mengenal Google aku langsung berpikir, ah seperti Ajik. Mungkin ini hiperbola tapi coba saja kalian mengenal ajikku.

Aku tidak tahu apa ada yang sependapat dengan semua yang aku tulis diatas. Aku juga merasa apa ajik memang begitu atau karena aku mencintainya jadi aku memuja apapun yang ia miliki dan lakukan.

Tetapi sebenarnya, tidak sedikit yang aku benci juga darinya. Itulah kenapa tadi kusebutkan aku sangat manusiawi ketika bersamanya. Karena aku mencintainya aku sering berharap banyak darinya. Mengkoreksi cara ia bertingkah dan memperlakukan sesuatu. Tidak jarang kami beradu argumen, berteriak satu sama lain, kesal, marah, dan tidak berbicara hingga berhari-hari. Itu kenyataan dan sedikitpun aku tidak menyesalinya. Karena setelah itu kami menangis bersama, minta maaf dan saling memaafkan. Semua pertengkaran itu semakin membuat aku sadar bahwa sebesar itu kami saling menyayangi.

Seseorang pernah berkata bahwa seberapa pedulimu pada sesuatu atau seseorang bisa dilihat dari seberapa sering kau menulis tentangnya. Ya, selama ajik hidup, aku sudah menulis banyak tentangnya diam-diam dan setelah ajik meninggal, tulisan tentangnya semakin mengalir begitu saja.

Mungkin ada banyak penyesalan ketika ajik meninggal. Menyesal aku tidak menunjukkan lebih banyak lagi kepedulianku dan kasih sayangku. Menyesal tidak membaca lebih banyak lagi bersamanya. Menyesal karena tidak menulis lebih banyak lagi semasa ia di sini jadi ia bisa membaca tulisan-tulisanku. Menyesal ia tak bisa menghabiskan sisa waktunya bersama Gandhi. Kalau harus ku ingat-ingat, akan sangat banyak penyesalaan ini. Tetapi seseorang pernah berkata "Kamu pasti sangat sedih setelah ditinggal ayahmu karena kemana pun kamu pergi dan apapun yang kamu lakukan sekarang rasanya seperti mengingatkanmu padanya, tetapi kamu harus bersyukur karena ini berarti kamu telah melalui banyak hal bersamanya hingga kamu memiliki banyak kenangan yang kelak kamu ingat ketika merindukannya"

Ya, ia benar. Aku aku mensyukuri betapa banyak kenangan yang ia buat untukku, banyak kenangan yang aku buat untuknya dan banyak kenangan yang kami buat bersama. Semua pertengkaran di masalalu membuatku ingin bertengkar lagi bersamanya dan semua tawa yang kita lalui ingin kuulangi sekali lagi. Mungkin kita tidak bisa melakukannya lagi, tapi sudahlah, aku sudah punya banyak kenangan bersamanya.

Ajik, biarkan aku selalu memujamu di sini sampai sisa hidupku.


Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...