Mereka bagaikan mata-mata pena yang menari di atas lembaran kertas yang sama, lembaran kertas hitam. Dan hanya keberuntungan yang bisa membuat kertas itu menjadi abu-abu, karena tidak mungkin membuatnya menjadi putih bersih.
- Lan Fang
Hanya karena keberuntungan memiliki konotasi positif, semua orang merasa ingin beruntung. Banyak orang menjadi mengemis keberuntungan tanpa tahu konsekuensi dari sebuah keberuntungan. Entah, aku tak pernah percaya ada yang percuma di dunia ini. Apa yang kau sebut keberuntngan itu, menurutku kelak harus di bayar. Entah bayar di muka atau di belakang.
Di Bali, memiliki anak laki-laki adalah sebuah keberuntungan. Bagaimana tidak, secara umum di Bali hanya laki-laki yang berperan untuk melanjutkan keturunan dan memiliki hak waris. Maka dari itu, kehamilan untuk para pasangan di Bali itu rasanya seperti bermain lotre. Jika kau mendapatkan anak perempuan, itu seakan-akan kau mendapatkan amplop "Anda kurang beruntung, coba lagi" lagi, dan lagi sampai kau memiliki anak laki-laki lalu orang-orang pasti akan berkata "Selamat! Kau beruntung".
Ini tidak benar jika memiliki anak perempuan artinya kau kurang beruntung atau bahkan tidak beruntung. Karena nyatanya anak perempuan tidak kalah mencintaimu lebih dari anak laki-laki. Namun hanya karena kodrat anak perempuan yang tidak bisa (jarang; pen) menjadi penerus membuat semua kebahagiaan itu seperti puzzle yang hilang satu keping.
Aku dengar setiap orang memiliki jumlah keberuntungan yang sama, hanya saja beberapa orang tidak menghitungnya dengan tepat. Beberapa orang hanya terpaku pada kesialannya saja hingga tidak memperhatikan keberuntungan yang menari-nari di sekitarnya.
Rasanya seperti es krim coklat mu yang lezat jatuh di kemeja putihmu, kau sangat sedih dan merenggut sepanjang waktu karena takut nodanya tidak bisa hilang, tetapi karena saking sibuknya meratapi kemeja putihmu yang ujungnya menjadi coklat kau tidak menyadari ada orang lain yang menyodorkan saputangan untuk membersihkan jemarimu yang penuh coklat, dan ada air mengalir untuk membasuh kemejamu supaya nodanya berkurang.
Kau hanya merasa menyedihkan dengan setitik noda itu, sembari melihat orang lain yang lalu lalang di sekitarmu dengan kemeja yang terlihat bersih.
Aku sering menemukan orang-orang yang merasa menyedihkan dengan melihat keberuntungan orang lain. Tenggelam di dalam air mata kesedihan ketika yang lainnya berenang di sana.
Beberapa orang menatap hidup dalam-dalam dan meneriakinya "Kejam!" padahal "hidup" sedang minum secangkir kopi sambil membaca buku dalam diam. Hidup yang bingung diperlakukan begitu hanya bisa ternganga sambil merenung bagaimana orang-orang ini memberinya cap "Jahat" tanpa melakukan apa-apa pada dirinya. Padahal mereka hanya menangis dan meringkuk ditepi tempat tidurnya memainkan jempol untuk melihat betapa bahagianya orang-orang diluar sana.
Padahal keberuntungan bisa diciptakan, padahal kebahagiaan butuh upaya. Sedangkan kau hanya berpangku tangan meminta sebuah keberuntungan? Ketika orang-orang harus memikul beban hidupnya sembari berlari ribuan hari demi mengais sebongkah kebahagiaan.
Seperti kata Ray Kroc "Keberuntungan adalah hasil keringat. Semakin banyak keringat Anda, Anda akan semakin beruntung."
Kita bisa saja beruntung setiap saat jika kita menata pola pikir kita tentang keberuntungan dan berhenti berprasangka buruk kepada Tuhan. Seperti banyak orang-orang Bali selalu bersyukur dengan mengambil sisi positif dari segala hal. Jika seseorang mendapat kecelakaan, mereka akan berkata "Syukurlah kau hanya patah kaki" "Beruntung sekali kau hanya kehilangan sepeda motormu" "Beruntung sekali aku memiliki anak-anak perempuan yang manis ini ketika yang lainnya masih menunggu kabar baik dari Tuhan" atau "Syukurlah aku tidak memiliki anak, jadi tidak akan ada beban apapun dalam hidupku" dan lain-lain. Sah-sah saja dalam merasa beruntung. Jika kau mengira tukang sapu dibawah matahari yang cerah sedang menyapu di jalanan yang panas itu "Kurang beruntung" kau salah kawan. Sekali lagi, jika kau jumpai selebriti yang memiliki wajah rupawan dengan pakaiannya yang berlabel mahal itu terlihat "beruntung", jawabannya belum tentu kawan. Bukankah sampah bagi seseorang bisa menjadi harta karun bagi yang lainnya?
Jujur saja, aku adalah tipe orang yang ketika dihantam kesialan, bisa berbisik lirih atau berteriak lantang "Sialan!" lalu aku membersihkan debu di sekitar tubuhku dan memukulinya dengan agresif. Tapi pernah, aku terpuruk dan menyesali hidupku. Bahkan mungkin sampai sekarang aku masih memiliki krisis kepercayaan kepada hidup setelah ia merenggut kedua orangtuaku sekaligus. Tetapi bukan berarti aku harus mendekam di rumahku, bersembunyi dan mematikan harapanku. Karena yang meninggal itu orangtuaku, bukan aku.
Ku teringat pada si Hob, di buku Andrea Hirata yang berjudul Sirkus Pohon. Walaupun kesialan mengetuk pintunya berkali-kali, ia selalu membukakan pintu dengan penuh harap dan berteriak sekaligus tersenyum "Bangun pagi, Let's go!"
Hob adalah manusia sial yang membuatku takjub. Ia tidak melihat kesialan itu sebagai musibah, tetapi sebagai kawan lama yang datang berkunjung. Ia akan tetap menyuguhinya teh walaupun kesialan selalu datang tak kunjung lelah. Hob adalah tipe manusia yang meraih kesialannya dan menari bersamanya.
Lain cerita, dengan tokoh Sabari yang membuatku mengakhiri buku Ayah sambil tersenyum. Ia membuatku melihat betapa kejamnya hidup kepadanya tetapi ia malah menawari secangkir kopi. Tetapi Sabari memang sangat manusiawi. Ku teringat ketika ia menangis berhari-hari ketika wanita itu mengambil anak yang dititipkan kepadanya sejak bayi hingga balita dengan paksa. Delapan tahun sudah Sabari kehilangan Zooro, anaknya dan hidup Sabari semakin tak menentu. Layaknya orang gila, badan tak terawat, rumah tak diurus, dan tak mau bekerja. Kemudian ia beranjak dari keterpurukannya. Sambil menunggu anak itu pulang, ia berusaha keras mempersiapkan dirinya menjadi ayah yang baik. Ia tidak lagi meringkuk menunggui anaknya, ia menolak anaknya melihat betapa lemahnya ia. Sabari membuatku yakin bahwa menjadi seorang manusia, baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus kuat.
Lalu kawanku, entah sebanyak apa pun kesialan yang kau miliki, jangan lupa ada keberuntungan juga di sela-selanya. Aku tidak bisa menjaminnya tetapi aku tahu ada banyak keajaiban di dunia ini dan salah satunya adalah milikmu.
Ah satu lagi, yang terjadi adalah yang terbaik.
Comments
Post a Comment