Kau harus memutuskan, apakah kau ingin menjadi penonton atau pemain?
Jika kau ingin menjadi penonton, maka duduklah dengan tenang dan saksikanlah dengan cermat.
Jangan gregretan ingin mengambil peran pemain. Apalagi menyumpah betapa beginilah atau begitulah para pemain.
Tetapi, jika kau memutuskan untuk menjadi pemain. Bermainlah. Berlarilah. Berjuanglah biar menang. Biar telak lawan-lawanmu.
Jangan ragu-ragu ketika sorak sorai para penonton melemah. Jangan terlena ketika perjuangan lawan mengendor. Jangan pula menyesal kenapa tidak duduk di bangku penonton saja.
Ada banyak keputusan-keputusan kecil yang memberikan kegundahan di kemudian hari.
Ada banyak keputusan yang tidak sempat diputuskan sampai batas kadaluwarsa tiba. Kau ketinggalan kereta. Menyesal mengapa dulu kau tak sempat mengejarnya. Mengapa dulu tak sempat mencobanya.
Tetapi kalau lewat, sebaiknya kau berdamai dengan penyesalan.
Tidak usah berharap banyak akan diberi kesempatan yang lain, karena nanti malah merusak apa yang sudah kau bangun.
Tidak usah menerka-nerka seperti apa rasanya jika kau memutuskan begitu dulu, tidak usah mengira-ngira akan bagaimana jadinya jika dulu kau putuskan begini.
Setiap langkah yang kita lalui dibuat melalui keputusan-keputusan yang kita pilih. Penyesalan hanya akan merusak kedamaian kecil yang telah kau bina di hatimu.
Tidak ada orang yang cukup kaya untuk mengubah masa lalunya, yang bisa dilakukan hanya menaklukan masa depan yang tercermin dari masa kini.
Comments
Post a Comment