Waktu itu hanya hari yang sangat biasa. Matahari bertengger dengan cerahnya membuat cuaca menjadi panas. Keringat mengalir di dahiku seperti sungai dan berakhir di daguku. Aku memutuskan untuk singgah di toko buku terdekat hanya untuk menghindari pengapnya kota ini. Mencari suhu yang lebih rendah beberapa derajat daripada di luar sana.
Tetapi aku lupa, melangkahkan kakiku ke sini berarti setuju untuk teringat lagi padamu. Menginjakkan kakiku di sini berarti aku harus siap untuk membuka kenangan-kenangan saat kita bersama di sini. Berdiam diri, tak berbicara satu sama lain tetapi kita bersama. Sama-sama memegang buku yang berbeda. Tetapi senyum simpul yang sama terkadang muncul di ujung bibir kita. Menyadarimu dulu menekuni buku seperti menenun di tiap halamannya membuatku semakin ingin menekuri buku yang ku pegang.
Saat ini. Sendirian. Aku bersembunyi dibalik buku humor yang ku temukan di salah satu rak buku. Aku membaca dan membaca tetapi tak kunjung tertawa. Ketika ku mendongak tak ada siapapun yang rautnya seperti milikmu. Air mataku merebak dan membuat mataku perih. Pilihannya ada dua, apakah ku biarkan saja menetes sekarang atau ku tahan sampai pulang. Andai saja air mata ini bisa diajak berkerja sama dengan baik. Tetapi tiba-tiba lagu itu muncul, lagu The Beatles yang biasa kita dengarkan bersama mendadak terdengung di seluruh ruangan.
There are places I'll rememberAll my life though some have changedSome forever, not for betterSome have gone and some remainAll these places have their momentsWith lovers and friends I still can recallSome are dead and some are livingIn my life I've loved them allBut of all these friends and loversThere is no one compares with youAnd these memories lose their meaningWhen I think of love as something newThough I know I'll never lose affectionFor people and things that went beforeI know I'll often stop and think about themIn my life I love you more
Membuatkanku tak bisa melarikan diri walau ku tutup telingaku. John Lennon seenaknya menyanyi seakan luka ku belum cukup perih. Seketika wajahku panas, seperti hujan yang turun di tanah gersang.
Aku menutup wajahku dengan buku yang tadi ku baca dan terisak di dalamnya. Khawatir memecahkan sepi di ruangan ini, ku coba menangis sesunyi mungkin. Ku nikmati tiap air mata yang mengalir. Ku biarkan kerinduan ini menyelimutiku. Pedihnya membuat tubuhku gemetar. Kenangan yang ku tahan-tahan selama ini mengguyur kepalaku. Ku berharap takkan ada yang menyadari aku yang sedang menangisi kepergian laki-laki yang ku kasihi. Aku terlalu letih untuk menjelaskan tentang dadaku yang membeku dan kehampaan di hatiku ini. Semua kesedihan ini benar-benar tidak adil bagiku. Aku ingin menyumpahi hidup ini tetapi tidak di toko buku yang suci ini. Yang kita sembah bersama setelah Pura.
Ketika ku merasa lebih tenang. Aku pelan-pelan menengadah dan membuka kamera di handphone ku, mengecek apakah mataku sembab atau sudah siap untuk diperlihatkan ke dunia. Wajahku terlihat menyedihkan. Mataku yang merah tak sanggup berbohong bahwa aku masih terluka. Ketika sudah merasa percaya diri. Aku melihat ada seseorang yang melewatiku. Ketika ku mengintip dari rak buku. Punggung itu. Punggung yang familiar. Tidak tegap tetapi tidak juga membungkuk. Postur tubuhnya yang tinggi dan satu tangan yang memegang buku dan satunya lagi masuk ke kantong. Laki-laki itu.
Aku bergegas berdiri dan mengemasi barang-barangku dan meletakan buku yang tadi ku baca kembali ke raknya. Aku memakai sepatuku yang tadinya ku jadikan alas ketika lesehan di lantai. Aku membiarkan mataku tetap mengintainya sembari melakukan semua itu. Luar biasa. Aku belum kehilangannya.
Di tengah hiruk pikuk sunyinya sebuah toko buku aku setengah berlari mengejarnya. Lalu ragu jika itu benar-benar sosok yang kurindukan selama ini hingga gila. Namun ku hilangkan keraguanku walaupun tidak akan mungkin tubuh itu adalah miliknya. Sambil mengikutinya, aku merapikan rambutku yang berantakan dan menghapus sisa-sisa air mata di pipiku, aku hanya ingin terlihat cantik di depannya.
Sekitar 2 meter tepat di belakangnya, aku ingin memanggil namanya tapi lidahku kelu. Ku perhatikan kemeja yang asing tetapi potongan rambut yang khas. Lagi-lagi ku mantapkan langkah kakiku untuk menepuk pundaknya tetapi nyali kembali menciut. Aku berjalan pelan di balik punggungnya menikmati jejaknya. Seperti yang dulu-dulu ku lakukan jika tidak sedang dirangkulnya. Aku rindu dirangkul lagi sambil membicarakan buku-buku terbaru yang seharusnya kami beli.
Ketika pintu keluar tinggal beberapa meter lagi, aku bersikeras untuk membuatnya berpaling padaku. Untuk melihat wajahnya sekali lagi walaupun setelah ini ia harus mencampakkanku. Untuk mendengar suaranya sebentar saja, walau mungkin aku harus kecewa. Mataku terpejam, menarik nafasku dalam-dalam dan setengah berteriak "A.." Kring handphoneku berdering, sosok di depanku terhenti dan sedikit menoleh tetapi wajahnya tak berhasil ku tangkap.
Ku angkat handphone ku tanpa memalingkan wajahku dari sosoknya yang terhenti.
"Dik Ayu, sedang di mana?" Sepupuku yang sedang di luar negeri rupanya.
"Aku.." Suaraku tercekat dan sedikit terisak ketika sosok itu berjalan lagi seakan hendak menghilang dariku lagi.
"Turut berduka cita ya atas kepergian Ajik. Yang kuat ya dik. Maaf mbok ga bisa pulang kemarin di hari kremasi Ajik" Suaranya terdengar biru karena haru.
Ucapan duka itu membuatku sadar bahwa sosok itu tak mungkin miliknya. Panggilan telepon ini membuatku sadar bahwa aku berhalusinasi karena kerinduan yang memuncak di siang bolong.
Di tengah-tengah kesibukan mall ku lepaskan sosok itu, lalu aku terduduk dan menangis.
Ps. Hanya sebuah mimpi yang ku kembangkan menjadi cerita mini untuk mengungkapkan betapa rindunya aku padamu jik.
Comments
Post a Comment