Mereka yang minum teh hangat di sebelah jendela di kala hujan sambil menanti inspirasi datang adalah para pemalas.
Para pejuang sebenarnya akan menerobos hujan dan melerai badai hanya untuk menjemput inspirasi yang tak jarang muncul di antara jurang kebingungan.
Dan aku menghasut mereka di balik selimutku supaya wajahku tak terlihat.
Ketika hujan telah berhenti, aku menyingkap selimut tebalku. Menengok ke segala penjuru arah, berharap tak ada yang menyadari kebangkitanku. Mengingat matahari sudah setengah jalan menuju terbenam, aku baru mengaduk kopi hangatku.
Ah, hari ini baru saja dimulai.
Hujan telah reda, batinku, namun kenapa dadaku masih bergemuruh? Apakah badainya sekarang pindah ke hatiku?
Aku melihat wajahku di cermin, wajah yang ku banggakan, parasku yang seelok ibuku dan kulit bagai jade yang tak perlu dipoles telah kusam. Wajahku mulai menampilkan kerutan yang mengkhianati umurku.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Kemana perginya kepercayaan diriku yang dulu. Seperti hanyut di serang banjir bandang. Hanya karena ayahku sangat memujaku, ku pikir aku sangat istimewa dan menarik. Ku pikir setiap pagi Matahari terbit untukku dan semua bintang bersinar karenaku.
Aku baru menulis surat cinta kurang dari seribu tetapi mengaku paling mengerti tentang cinta. Lalu ku pecahkan cermin di hadapanku.
Comments
Post a Comment