Skip to main content

Entahlah

Kami sedang dalam suasana di mana harus duduk bersama. seharusnya ada sedikit basa-basi di dalamnya guna mencairkan suasana yang dingin ini. Tapi apa boleh buat, ia sedang tak ingin berkata-kata rupanya dan aku pun tak ada pilihan lain selain membisu karena semua kata-kata yang kemungkinan besar dari lidahku hanya kalimat yang tidak seharusnya dikatakan.
Bukan sumpah serapah, hanya sedikit tak pantas saja dikatakan di sini.
Aku hanya harus menurut seperti anak SD yang sedang dipotong kukunya. Jika salah potong, menjerit tak boleh karena nanti malah semakin di marah. Ingin berkata-kata kasar tapi entahlah, aku kan bisu.

Aku hanya bisa menghela nafas di tiap kepalaku pening.
Minum aspirin sudah tak mempan, tidur pun dosa.
Hanya bisa menghela nafas.
sepanjang panjangnya.
sepanjang mungkin.
Mungkin sepanjang perjalanan dari sini ke kampung halamanku, biar ku jumpa damai di sana.
eh entahlah, di sana sudah tak sedamai dulu.

Aku sudahh tak tahu di tempat mana yang menawarkan kedamaian yang sesungguhnya.
Bukan sekedar label damai yang ujung-ujungnya harus dibayar jika masa percobaan sudah habis.

Mungkin kedamaian abadi itu maksudku kematian.
Eh entahlah, kalau aku masuk surga mungkin ku jumpa damai.
Bagaimana kalau aku masuk neraka? mengingat aku tak cukup mampu membayar tiket ke surga.
aku pasti akan semakin penat di neraka karena hiruk pikuk manusia-manusia yang tidak cinta damai itu.

Mungkin sebaiknya aku menemui pemuka agama saja untuk curhat uneg-unegku.
Eh entahlah, paling nanti aku hanya disuruh banyak-banyak bersyukur dan bukannya menenangkan hati, malah gosip-gosip miring nanti hilir mudik di telingaku.

ahhh entahlah, aku bisa gila kalau begini terus, dan ini bukan pilihan yang baik.
Eh, entahlah.

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...