Kami sedang dalam suasana di mana harus duduk bersama. seharusnya ada sedikit basa-basi di dalamnya guna mencairkan suasana yang dingin ini. Tapi apa boleh buat, ia sedang tak ingin berkata-kata rupanya dan aku pun tak ada pilihan lain selain membisu karena semua kata-kata yang kemungkinan besar dari lidahku hanya kalimat yang tidak seharusnya dikatakan.
Bukan sumpah serapah, hanya sedikit tak pantas saja dikatakan di sini.
Aku hanya harus menurut seperti anak SD yang sedang dipotong kukunya. Jika salah potong, menjerit tak boleh karena nanti malah semakin di marah. Ingin berkata-kata kasar tapi entahlah, aku kan bisu.
Aku hanya bisa menghela nafas di tiap kepalaku pening.
Minum aspirin sudah tak mempan, tidur pun dosa.
Hanya bisa menghela nafas.
sepanjang panjangnya.
sepanjang mungkin.
Mungkin sepanjang perjalanan dari sini ke kampung halamanku, biar ku jumpa damai di sana.
eh entahlah, di sana sudah tak sedamai dulu.
Aku sudahh tak tahu di tempat mana yang menawarkan kedamaian yang sesungguhnya.
Bukan sekedar label damai yang ujung-ujungnya harus dibayar jika masa percobaan sudah habis.
Mungkin kedamaian abadi itu maksudku kematian.
Eh entahlah, kalau aku masuk surga mungkin ku jumpa damai.
Bagaimana kalau aku masuk neraka? mengingat aku tak cukup mampu membayar tiket ke surga.
aku pasti akan semakin penat di neraka karena hiruk pikuk manusia-manusia yang tidak cinta damai itu.
Mungkin sebaiknya aku menemui pemuka agama saja untuk curhat uneg-unegku.
Eh entahlah, paling nanti aku hanya disuruh banyak-banyak bersyukur dan bukannya menenangkan hati, malah gosip-gosip miring nanti hilir mudik di telingaku.
ahhh entahlah, aku bisa gila kalau begini terus, dan ini bukan pilihan yang baik.
Eh, entahlah.
Comments
Post a Comment