“Kartini dengan lantang dan jernih menyuarakan pikiran-pikirannya, menentang terang-terangan feodalisme, ketimpangan hak atas pendidikan, dan diskriminasi terhadap perempuan.” (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja). Perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan menempuh berbagai rintangan berupa budaya dan adat yang sudah menjelma menjadi aturan tak tertulis dalam masyarakat yang sulit untuk diubah. (Waltri, Jalastoria.id).
Di jaman Kartini dulu, para laki-laki menganggap perempuan tak usah mengejar pendidikan setinggi-tingginya karena toh tugas perempuan ujung-ujungnya di dapur. Perempuan memang harus belajar sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, walaupun mungkin ujung-ujungnya adalah dapur. Karena “dapur” perempuan yang pintar tentu akan berbeda dengan perempuan yang tidak belajar. Lalu perempuan-perempuanlah yang akan melahirkan bayi-bayi ke dunia. Mengajari anak-anak mereka dengan baik dan tulus supaya dunia ini penuh dengan anak-anak yang sehat, bahagia, cerdas, baik hati, dan rendah hati. Karena perempuan yang meraih pendidikan yang tinggi akan lebih besar kemungkinan menghasilkan rumah tangga yang sehat dan bahagia. Perempuan-perempuan yang pintar dan rendah hati akan membuat dunia menjadi lebih nyaman dan damai. Perempuan-perempuan yang suka merundung biasanya jarang keluar dari cangkangnya dan memiliki hati yang sempit. Tidak berani melihat keindahan perempuan lainnya.
Sudah berapa dekade berlalu, banyak perempuan masih mengelu-elukan Kartini sebagai panutan emansipasi wanita. Sebagai contoh belaka. Nyatanya di jaman sekarang, bukan laki-laki yang merendahkan perempuan, tapi malah perempuan mencemooh perempuan lainnya. Kita bisa lihat di lingkungan sekitar dan sosial media. Banyak perempuan merundung perempuan lainnya. Ada perempuan tidak bisa memasak, dirundung. Ada perempuan tidak memberikan asi tetapi sufor untuk bayinya, dirundung. Ada yang tidak melahirkan secara normal, dirundung. Ada yang harus bekerja dan meninggalkan anak-anak di rumah, dirundung. Beberapa perempuan memilih tidak bekerja dan tinggal di rumah mengurus anak, dirundung. Ada yang tidak mau menikah atau memilih childfree, dirundung. Bukannya diajak berunding malah dirundung. Tetapi di hari Kartini mengaku paling Kartini.
Hanya karena perempuan lain tidak mengikuti jalan hidup perempuan pada umumnya, kita menghakimi mereka bukan sebagai perempuan sejati. Padahal setiap perempuan memiliki hak untuk memilih cara hidup mereka sendiri. Berhentilah membuat standarmu sendiri sebagai patokan hidup semua orang. Sudah semestinya sebagai perempuan, kita patut bersimpati dan mendukung jika melihat perempuan lain yang sedang berjuang. Karena kan perempuan lah yang paling mengerti perempuan. Ketika perempuan menangis, itu karena mereka lelah, bukan menyerah. Sekali lagi, ketika perempuan menangis, bukan karena cengeng, tetapi karena sudah lama kuat.
Teringat ketika ku dulu dituntut untuk merelakan pekerjaanku karena sudah lama tak memiliki keturunan. Saat itu perempuan-perempuan lain merundungku dengan berkata begini dan begitu. Para perempuan, teman sejawatku di Green School tidak hanya bersimpati kosong, namun mereka benar-benar ada untukku. Waktu itu rasanya seperti bertinju dalam hidup. Ketika sudah merasa babak belur, aku akan pergi ke pojok ring. Bukan untuk kabur dari pertandingan, tapi untuk bersiap menantang di ronde selanjutnya. Lalu di pojok itu, ada perempuan-perempuan itu yang siaga untukku. Mereka siap menyeka entah keringat entah air mataku.
Lucu sekali bagaimana mereka semua berusaha untuk “menghamiliku”. Kata ibu-ibu garden, minum ini minum itu. Kata ibu-ibu kitchen, makan ini makan itu. Kata bosku, coba begini coba begitu. Kata teman-temanku, jangan begini jangan begitu. Sampai akhirnya suatu malam aku meminum sebuah jiwa, lalu pecahlah air mata kami. Benar, kami. Karena campur tangan perempuan-perempuan inilah aku dipercayakan Tuhan untuk memiliki buah hati. Rasanya seperti menggedor rumah Tuhan. Bayangkan berapa perempuan ikut menggedornya untukku. Rusuhlah rumah Tuhan, hingga Tuhan berubah pikiran dan menghadirkan buah hati untukku. Segera.
Jika aku tak bekerja di sini, apakah aku akan bertemu dengan perempuan-perempuan macam “begini”? Yang mendukung, menyokong dari belakang, kanan, dan kiri. Yang memastikan aku mengejar impianku. Bukan perempuan macam “begitu”, yang hanya bisa merundung dan membuat suasana mendung. Yang menganggap perundungan sebagai kritikan untuk membangun.
Departemen tempatku bekerja tak lain layaknya kerajaan perempuan yang minim laki-laki. Dari atasan hingga bawahan penuh dengan perempuan. Bisa kau bayangkan bagaimana tiap rapat dibuka. Rasanya seperti arisan ibu-ibu komplek. Kami saling menghormati satu sama lain. Memang tidak sehormat kepada bendera Merah Putih di Senin pagi, tetapi kami memiliki cara tersendiri untuk menjalin hubungan kerja yang menyenangkan. Ajaib sekali bagaimana perempuan-perempuan ini membuat tiap harinya menjadi canda dibandingkan drama. Bekerja bersama perempuan-perempuan ini sangat menggemaskan. Bekerja bersama perempuan itu seperti bekerja bersama ibumu. Ada saat cerewetnya namun penuh dengan solusi. Seperti kata Margaret Thatcher “If you want something said, ask a man; if you want something done, ask a woman”. Di sinilah aku yang perempuan ini belajar menjadi lebih “perempuan” lagi.
Bagiku perempuan-perempuan ini adalah Kartini berkedok teman. Yang mengangkat hak-hak perempuan lainnya. Tidak lewat baca dan tulis. Namun mereka menjadi Kartini dengan cara mereka sendiri. Dengan apa yang mereka miliki dan dengan hati yang sangat besar, hingga tak sanggup ku ungkapkan betapa bersyukurnya aku bertemu mereka.
Selamat hari Kartini, wahai para Kartini.
Ugie Pratiwi, Maret 2024.
Comments
Post a Comment