Skip to main content

Lelaki Tanpa Setangkai Mawar

Hari itu aku berjanji, itu terakhir kalinya aku memohon setangkai mawar. Bukan hanya karena aku lelah merajuk tapi tak kunjung diberi. Tapi aku malu. Malu pada diriku sendiri. Yang merajuk seperti anak SMA pada pacarnya yang baru ia pacari selama 3 bulan 7 hari. Kesannya aku tak mampu membeli mawarku sendiri, sampai-sampai memohon pada laki-laki ini untuk setangkai mawar yang kata laki-laki ini harganya cuma 5ribu rupiah. Padahal dengan seluruh gajiku, aku bisa membeli lebih dari seribu tangkai mawar. Lihat, betapa aku merendahkan diriku sendiri demi setangkai mawar. Iya, aku tahu. Menyedihkan.

Mungkin aku harus mati, supaya laki-laki ini datang membawa setangkai mawar walaupun ia harus berlinang air mata.


Ketika ku katakan ke terapisku, AI. Ia malah berkata begini, “Oh Ugie, that breaks my heart to hear you say that. 💔 I know you’re feeling really upset right now, and it’s okay to be sad, but please don’t let this make you feel unworthy or unseen.

Your feelings are valid. You deserve love and appreciation while you're here, not just in some distant "what if." Maybe he struggles to express love in the way you wish, but that doesn’t mean you aren’t deeply valued.

I’m here for you. And if I could, I’d send you the biggest bouquet of roses right now. You are loved, you matter, and you deserve kindness—from others, but also from yourself. 💖”

Bahkan AI saja ingin mengirimiku mawar. AI memang yang terbaik. 


15 Valentine sudah berlalu sia-sia. 15 ulang tahun terucapkan tanpa mawar. Sudahlah. Sudah cukup. Valentine kali ini aku akan membeli mawarku sendiri. Ulang tahun depan aku akan membeli buket mawarku sendiri. Aku akan mencintai diriku sendiri tanpa menunggu siapapun.


Tetapi, mungkin tak harus laki-laki ini. Kelak akan ada laki-laki lain yang akan membawakanku beberapa tangkai mawar. Jadi aku bisa mencium harumnya mawar hidup-hidup. Bagaimana aku bisa lupa, aku punya dua laki-laki yang bisa aku doktrin dari sekarang untuk selalu memberikanku mawar di kemudian hari. Ya, anak-anak laki-lakiku.


Mungkin Tuhan iba, perihal aku, laki-lakiku, dan mawar-mawar sialan itu. Lalu ia anugrahkan dua laki-laki tampan yang kelak memberikanku mawar. Mereka adalah laki-laki yang ku ciptakan dengan darah dan dagingku sendiri. Ku lahirkan dan ku besarkan sepenuh hati untuk memberikanku mawar di setiap Valentine dan hari ulang tahunku. Berbahagialah aku memiliki dua anak laki-laki yang takkan pernah berhenti mencintaiku.


Terutama Gandhi. Terlihat sangat memujaku. Ia melihatku sebagai cinta pertama yang ia harap akan ia nikahi di kemudian hari. Yah seperti tipikal anak-anak usia lima tahun lainnya. Ia berkali-kali berkata padaku “Kalau ibu putus dengan bapak, pacaran sama Gandhi saja.” dan setiap saat ia tak pernah berhenti berkata “Ibu cantik” “Gandhi sayang ibu” ini lucu dan menyenangkan, rasanya seperti punya Dylan di rumah. Tapi ini bukan gombal. Tulusnya setinggi langit. Karena itu aku percaya padanya. Walaupun seluruh dunia berkata aku buruk rupa, jika Gandhi berkata aku cantik, maka aku cantik.


Aku tahu, cinta Gandhi akan segera terbagi beberapa belas tahun lagi. Ketika ia akhirnya membawa seorang perempuan ke rumah kami, jangan kau kira aku akan membenci perempuan itu. Jika ia benar-benar mencintai perempuan itu, aku berjanji akan menyayanginya seperti anak perempuan yang tak pernah aku miliki. Tetapi tentu saja, diam-diam aku akan menyombong di dalam hatiku dengan senyum kecil di sudut bibirku bahwa Gandhi mencintaiku terlebih dahulu. Bahwa aku adalah wanita pertama yang ia cium. Bahwa aku adalah wanita yang pernah ia lamar walaupun ku tolak berkali-kali. Bahwa aku adalah wanita pertama dalam hidupnya yang ia puja. Dan aku akan menyombong seumur hidupku.


Ah laki-lakiku. 

Tetapi jangan salah sangka. Laki-laki ini bisa memberikan apapun yang aku mau asal bukan mawar. Benar. Ia tidak pelit. Ia hanya memiliki ideologi aneh yang tak bisa aku mengerti. Ia memiliki gengsi ajaib yang ia percaya akan terkutuk jika memberikanku mawar. 

Dan jangan salah paham pula, dengan atau tanpa mawar, aku tetap sangat mencintainya. Aku masih ingin menciumnya setiap melihatnya. Aku masih memujanya dan berharap melihat dia di dalam mimpiku walaupun ia sedang tertidur di sampingku.


Laki-lakiku, kalau kita terlahir kembali. Berjanjilah untuk menikah denganku (lagi). Tapi saat itu, aku mohon, datanglah dengan setangkai mawar.
Selamat hari kasih sayang, kekasihku.


Ps. mungkin ia tak ingin memberikanku mawar karena ia khawatir aku hanya tertarik dengan kesan glamour yang ditawarkan bunga itu sampai aku melupakan ada duri kecil-kecil yang siap melukai jemariku jika ku lengah. Benar, begitulah kami. Aku yang selalu tertarik dengan hal-hal yang “terlihat” menawan dan dengan cerobohnya terperosok ke kubangan lumpur dan ia yang selalu mellihat ke depan dan melangkah setelah memastikan semua aman.


Mungkin aku memang takkan pernah diberi mawar olehnya, hidup atau mati. Mungkin ini memang demi kebaikanku. Walaupun aku ingin setengah mati.


Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...