Skip to main content

Berkelahi dan Menang

 “Dia selalu begitu” Kata suamiku, yang tengah membicarakan kenalan kami yang seringkali dia dapati sedang senyum-senyum sendiri ketika sedang mengendarai motor. Suamiku menganggap hal itu lucu dan kerap bercerita dengan nada setengah mengejek. Awalnya aku ikut tertawa, lalu merenung. 

“Bukankah kita semua seperti itu?” gumamku. 

“Seperti apa maksudmu?” tanya suamiku. 

“Memangnya, ketika kita mengendarai motor seorang diri, tanpa teman. Apa yang kamu lakukan sepanjang perjalanan? Kamu ga ngobrol sama dirimu sendiri?”

Suamiku sedikit menaikkan alis di sebelah kanan “Aku biasanya bernyanyi atau memikirkan nanti siang makan apa, atau tentang pekerjaan”

“Sepertinya dia juga seperti itu, sedang mengkhayal”

“Tetapi kenapa sambil senyum-senyum begitu?” ejek suamiku

“Karena kami para wanita lebih ekspresif taauu!” Kataku bangga, sambil melanjutkan suapan nasiku.

Petang ini kami makan di luar, ya makan di teras. Sedangkan anak-anakku yang sudah selesai makan tengah bermain di ruang keluarga. Anak keduaku sedang asik bermain mobil-mobilan sambil sesekali mengganggu anak pertamaku yang sibuk menggambar. Suamiku membereskan sisa-sisa nasi yang tercecer di tikar bambu. Ia membawa piring-piring itu ke dapur dan meninggalkanku bersama pertanyaan “Kalau kamu, apa yang kamu lakukan ketika berkendara sendiri?”


Apa ya yang biasanya aku lakukan? Aku biasanya karaokean, semua lagu-lagu di playlist, atau satu lagu yang tak bisa berhenti berputar selama 39 menit perjalanan. 


Di jalan, aku bertanya. Aku mempertanyakan semua hal yang terlihat ganjil dari sudut pandangku. Mempertanyaakan keputusan orangtuaku dahulu kala, kebijakan para pemerintah di Bali, presiden Indonesia bahkan pernyataan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh PBB. Terkadang aku juga memuji. Memuji puisi Pablo Neruda, tulisan Leo Tolstoy atau buku-buku yang ditulis Andrea Hirata. Memuji bagaimana mereka bisa menulis dengan sangat baik dan luar biasa indahnya. Termenung di setiap baitnya, sampai lampu merah digantikan lampu hijau.

Pernah ada Singa masuk ke perumahanku dan aku harus menyelamatkan anak-anakku. Waktu itu kami sedang berbelanja ke warung di dekat rumah sampai kami melihat warga berlarian karena ada singa masuk ke perumahan. Aku berlari sambil menggandeng tangan Gandhi dan menggendong Ganatha. Aku berlari sambil menangis. Gandhi berlari dengan tekun tetapi sesekali melihat ke belakang untuk memastikan Singa itu tetap dibelakang kami. Singa itu tidak hanya menargetkan kami tetapi semua makhluk yang dilihatnya. Aku berteriak pada Gandhi untuk tetap berlari tanpa melihat ke belakang, lalu kaki Gandhi terantuk dan ia terjatuh. Lututnya berdarah dan rumah kami sudah dekat. Aku mencoba menggendong Gandhi bersamaan dengan Ganatha tetapi tubuhku tak sanggup. Singa itu sudah di dekat kami, aku bisa mendengar ia mengaum seakan bersorak senang karena menemukan mangsa di jam makan siang. Tanganku gemetaran dan nafasku tertahan. Jiwaku ingin lari tapi tubuhku beku. Ketika singa itu hendak menerkam kami, aku sudah sampai di parkiran tempat kerjaku.



Beberapa kali orangtua ku hidup kembali. Kami makan siang bersama dengan Gandhi dan Ganatha yang tidak pernah mereka temui. Pernah kami liburan sekeluarga ke Singapur atau ke Thailand atau kemana saja yang ajikku inginkan tanpa kami harus khawatir tentang uang. Karena di dalam khayalan, uang bukanlah masalah. Aku sering mengulang semua skenario di masa lalu. Seluruh adegan di meja makan bersama keluargaku ketika aku masih tinggal di rumah itu. Lelucon-lelucon yang tidak pernah aku tahu harus dikatakan pada siapa karena mereka tidak akan mengerti. Lalu air mataku akan menetes di sepanjang jalan.


Suatu hari aku kembali ke masa lalu. Mencoba mengganti-ganti pilihan yang pernah hidup tawarkan. Seandainya aku tidak begitu, hidupku akan seperti apa? Mencoba untuk menyelamatkan hidupku yang dulu, walaupun mungkin jika aku harus kembali ke masa lalu, aku akan tetap memilih hal yang sama. Sering aku berdebat. Dengan diriku sendiri. Tentang hal-hal yang seharusnya ku lakukan. Juga menyesali hal-hal yang tidak ku katakan. Ini gila. Tapi aku telah melakukan banyak kesalahan dalam hidupku. Menghakimi pilihan diriku pilih di masa lalu adalah tindakan bodoh. Aku mengkasihani diriku, lalu memarahinya lagi, begitulah terus sampai kemacetan ini berakhir.


Kadang aku membunuh orang. Aku memikirkan skenario yang tidak pernah terjadi. Saat itu jam 6 pagi. Setiap jam 5 pagi suamiku sudah pergi ke kantornya yang cuma 5 menit dari rumah dan kembali sebelum jam makan pagi. Gandhi sudah bangun dari tempat tidur dan duduk di sofa ruang tamu, tetapi masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang tertinggal di tempat tidur. Terkadang ia menutup matanya, ketika aku bertanya dari dapur, ia akan terbelalak lagi, lalu menguap dan terpejam lagi. Seorang pencuri mengendap-endap masuk ke rumahku dari garase. Setiap pagi ia melihat suamiku pergi dan ia pikir tidak ada orang di rumah kali ini. Karena suasana rumahku masih sepi. Saat itu aku sedang menyiapkan makan pagi dan bekal anak-anak di dapur. Ganatha masih tertidur pulas di kamar tidur. Lampu di ruang tamu sengaja tidak aku nyalakan karena menunggu sinar matahari masuk perlahan ke dalam rumah. Gandhi duduk di sofa tepat di sebelah pintu. Ketika pencuri itu membuka pintu rumah dan mengintip sedikit ke dalam, suara pintu membuat Gandhi tersentak dan menoleh ke arah pintu dan membuat mata mereka bertemu. Wajah asing pencuri yang terlihat menyeramkan dibawah temaramnya pagi dan Gandhi yang belum bangun sepenuhnya membuat Gandhi terkejut dan berteriak kencang. Sontak aku tergesa dan berlari ke ruang tamu sambil membawa pisau dapur yang ku pakai untuk memotong anggur. Situasi yang terbaca membuatku refleks menyerang pencuri yang malang itu. Hingga terbunuh.


Lalu suamiku datang “Lalu apa?”

“Apa bagaimana?” aku tersentak dari lamunanku.
“Apa yang kamu lakukan ketika berkendara sendiri?”

Aku tersenyum bangga dan berkata “Aku berkelahi dan menang”

September 2025

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...