Skip to main content

Cerita Yang Belum Selesai.

Kau dan aku, punya cerita yang belum selesai.

Kala itu aku percaya bahwa semua itu tidak benar. Kau adalah benar. Ketika seluruh dunia berkata kau salah, aku percaya kau benar. Kau meyakinkan ku. Ketika ku ajak kau untuk menyampaikan ke seluruh dunia bahwa kau benar, kau malah bungkam, lalu menghilang.

Di sanalah aku terpukul dan merasa terkhianati.
Kau telah membohongiku dan mengkhianati rasa kepercayaanku.
Bahkan kau meninggalkanku sendirian di dunia yang menghakimiku.

Lama sudah semua berlalu.
Kita bertemu lagi. 
Aku masih tersenyum padamu.
Kamu pun tersenyum padaku.
Tanpa kecanggungan dan keraguan.
Dengan mode waspada yang ku hidupkan di belakang alam bawah sadarku.
Kita bercengkrama di atas kuburan masalalu yang ingin kita sembunyikan.
Kau berharap dengan mengubur kebenaran ini, maka akan tumbuhlah kedamaian lagi. Seperti dulu.
Tetapi kawan, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai.

Siang itu kita duduk melingkar.
Ketika mereka mencoba untuk menelanjangimu.
Dengan cerita masalalu yang ternyata belum usai.
Aku pun ingin mendengar kebenarannya.
Aku pun ingin tau yang sebenarnya.
Tetapi ketika melihatmu memandangku sekilas seakan meminta belas kasihanku, ku tak bisa selain menyelamatkanmu. Menyelimuti dirimu dengan kenangan masa kecil yang lama ku tenun.

Mereka pun berkata "Apa yang kau lakukan? Jika kau menutup mulutmu, sebentar lagi kita akan melihat dia terpojok!"
Waktu itu aku terpaku dan menyadari bahwa aku salah. Tapi...
"Bagaimana aku bisa melihat ia ditelanjangi begitu? Ia adalah masa kecil yang ingin ku lindungi. Aku tak butuh kebenaran lagi."

Kau dan aku, punya cerita yang belum selesai.
Yang aku takutkan ketika kita mulai membicarakan hal ini, bukan cerita ini yang selesai tapi hubungan kita.

Kau dan aku, punya cerita yang belum selesai.
Walaupun, yaah tidak semua cerita harus diselesaikan.
Aku lebih memilih untuk tidak menyelesaikan cerita ini jika itu berarti kita akan kembali seperti dulu.
Karena hubungan kita lebih penting dibandingkan cerita yang tak terselesaikan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...