Dulu ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang Cinta pertama ayahku. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak menyedihkan untuk anak SD yang percaya bahwa cinta pertama harus berlangsung selamanya. Aku sedih untuk ayahku. Tapi aku sedih juga untuk ibuku. Rasa sedih ini datang bersamaan dengan kekhawatiran, apakah ayahku bahagia walaupun ia tidak berakhir bersama cinta pertamanya? Begitu juga dengan ibuku, apakah ia sedih karena ternyata ia bukan cinta pertama ayahku?
Seakan-akan seluruh pikiranku diterjemahkan ke wajahku. Bibi-bibiku malah semakin menggebu-gebu menceritakannya. Seakan-akan ini adalah sinetron terkini yang sedang tayang di salah satu saluran TV swasta yang tidak boleh aku lewatkan. Aku hanya menganga dan membiarkan kisah cinta pertama itu melaju lancar ke telingaku.
Ayahku mencintai seorang wanita di seberang lautan. Ayahku, dengan vespa merahnya melaju dari Bali Utara ke Kota Mataram, Lombok. Jika ku lihat di google map, membutuhkan kurang lebih 8-12 jam. Ia, ku yakin dengan senyumnya yang tampan mengendarai vespa itu dari Utara ke Selatan. Melewati 2 bukit hijau, dari Singaraja yang panas, menembus Bedugul yang dingin, lalu Denpasar yang pengap, membelah selat Lombok, terapung-apung selama 4 jam di kapal ferry yang terlihat usang, dan melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram yang terik. Jika ku bayangkan saya kepalaku pening. Belum lagi jika ku pikirkan ia dihujani sepanjang jalan. Apakah jaketnya cukup hangat?
Ketika ku mulai dewasa, melewati masa remaja. Kisah itu masih berlalu lalang di telingaku. Perihal cinta pertama yang mengarungi Samudra. Terkadang aku merenung, perlukah aku mengetahui semua ini? Seharusnya aku berlagak acuh tak acuh saja, karena toh semua ini sudah berlalu dan ayahku saat ini terlihat bahagia bersama ibuku. Tetapi aku, yang berada pada usia di mana cinta adalah segalanya tidak bisa tenang. Aku yang berpikir bahwa semua cinta harus diperjuangkan, mengalami patah hati yang berkelanjutan. "Lalu, mengapa mereka tidak akhirnya bersama?" tanyaku memberanikan diri.
Aku pikir aku akan mendengarkan jawaban yang klise. Orang ketiga contohnya. Tetapi alasannya jauh lebih ke realita. "Karena ayahmu tidak punya TV" kata Bibiku santai sambil terus memainkan kartu domino di tangannya. Ya, mereka membicarakan kisah cinta orangtua ku sesantai itu. Itu adalah kisah cinta yang akan membuat William Shakespeare pun menangis.
Kala itu, ayahku masih fresh graduate dan belum memiliki pekerjaan tetap. Lulusan Sastra Inggris dari kampus di Malang yang nun jauh di sana. Pada tahun 80an, ia dipandang tidak keren. Oleh ayah wanita itu, ia ditolak. Tidak direstui cintanya. Karena ketulusan saja tanpa materi tidaklah pernah cukup bagi seorang calon ayah mertua. Ayahku kalah. Ia terluka dan pulang ke Utara tanpa apa-apa. Hanya duka yang tak berkesudahan. Cerita itu ditutup dengan kartu domino terakhir di meja itu, selesai pula kisah cinta pertama ayahku yang suci. Lebih tepatnya Tamat. Kandas. Yah setidaknya cinta ayahku tidak bertepuk sebelah tangan.
Aku tidak sanggup membayangkan kekalahan ayahku. Karena di meja makan kami, ayahku adalah juara. Apapun yang ia ceritakan selalu berakhir dengan kebanggaan. Tetapi, bukan tentang cinta pertamanya. Ia tidak pernah menceritakannya. Sedikitpun. Bahkan wanita itu, si Cantik dari kota Mataram itu tidak pernah sedikit pun keluar dari bibirnya. Sedikitpun tak muncul di salah satu cerita serunya. Aku sering bertepuk tangan mendengar ceritanya lalu pikiranku berkelana. Apakah ayahku benar-benar bahagia saat ini? Apakah ia kadang-kadang masih teringat tentang cinta pertamanya?
Lalu aku memandang ibuku, yang tersenyum bahagia. Mendengarkan cerita laki-laki ini lagi. Yang entah sudah berapa kali ia ceritakan di bulan ini. Sambil mengupas mangga ranum di tangannya, ia membumbui cerita-cerita ayahku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ceritanya semakin hidup. Ini semua adalah kebahagiaan kecil kami yang tak tergantikan. Yang butuh waktu seumur hidup untuk dikenang.
Aku dengar, wanita itu menikah dan tinggal di Utara. Di satu tanah yang sama dengan keluarga kami. Setiap kami mengunjungi tempat yang ramai, aku berharap mereka takkan bertemu. Aku ingin cinta yang telah kandas ini tidak muncul tunas baru.
Terkadang aku masih melihat sosok ayahku yang terluka karena TV yang tidak ia miliki di jaman itu. Saat ini, ayahku adalah seorang wirausaha yang cukup sukses di kota kami. Ayahku membuka kursus bahasa Inggris pertama di kota ini, yang pariwisata sedang berkembang di pulau ini. Kelas-kelasnya tak pernah kosong. Orang-orang membludak mendaftar. Ke mana pun kami pergi, ada saja yang mengenalnya. Jika ku tanya siapa, jawabannya selalu sama "Sepertinya murid ayah dulu".
Bahkan saking miripnya wajahku dengan ayahku, orang-orang selalu berkata "Oh pasti ayahmu guru bahasa Inggris saya dulu ya!"
Ya, seterkenal itu ia di kota kecil ini, hingga ia bisa membeli berapa TV pun yang ia mau. Ya, ia membelinya. Ia membeli setiap TV keluaran terbaru. TV yang besar memenuhi ruang keluarga kami. Tetapi ibuku memiliki prinisip 1 rumah 1 TV, untuk menghindari anggota keluarga yang sibuk di kamar masing-masing. Alhasil ayahku banyak menyumbang TV ke rumah kakek dan nenekku dan saudara-saudara lainnya. Seperti ketiban TV nomplok.
Semakin aku dewasa, jika ku ngobrol dengan ayahku dan teringat kisah cinta pertama sialan itu lagi. Pikiranku kembali berkelana "Berani-beraninya ia menolak ayahku yang tampan" "Terkutuklah ia yang mencederai hati ayahku" dan semua sumpah serapah yang tidak perlu itu. Hingga suatu hari ibuku berkata "lihat, laki-laki itu adalah suami dari wanita cinta pertama ayahku" aku terkesiap mendengar celetukan ibuku dan gelagapan menoleh ke arah yang dituju. penasaran, seperti apa wajah laki-laki itu. Dan apakah wanita itu juga ada bersamanya.
Sikap ibuku tidak seperti yang aku bayangkan. Dibandingkan istri yang terluka karena melihat mantan pacar suaminya seperti di sinetron-sinetron. Lagaknya lebih seperti adik perempuan yang tidak terima kakak laki-lakinya diputus cinta. "Berani-beraninya ia menolak cinta suamiku" katanya kepadaku. Aku berpikir, bukannya cintanya tidak direstui ya? versi mana lagi ini. Tetapi aku pura-pura tidak tahu.
"Bagaimana ceritanya bu?" Tanyaku polos.
Lalu keluarlah segala uneg-uneg yang selama ini ibu pendam. Di sinilah kami, mengutuk bersama.
Mungkin cinta pertama ayahku memang bukan ibuku. Memang ibuku tahu semua itu. Mungkin pernikahan ini tidak diawali dengan cinta yang manis seperti di film, tetapi bukankah menjadi cinta terakhir adalah yang terbaik?
Selamat ulang tahun ajikku sayang. Cinta pertamamu boleh kandas, tetapi, cinta terakhirmu sempurna.
Aku mencintaimu. I will see you when I see you.
Tabanan, 16 January 2026
Comments
Post a Comment