Skip to main content

Surat Untuk Galuh

Yang tersayang, Galuh.
Apakah kau yang kemarin malam hadir di mimpi ibu? Anak kecil dengan poninya yang manis. Tangan mungilmu mengamit erat tangan ibu dan kita bergandengan tangan entah ke mana waktu itu. Waktu itu, ibu kaget, "Tangan mungil siapa ini?" Tetapi senyum manismu kala itu membuat ibu tau. Beberapa kali, seingat ibu, kau datang ke mimpi. Sungguh menyenangkan melihat anak perempuan dengan rambut diikat dua mengenakan dress bunga-bunga sesekali mengisi mimpi ibu yang biasanya terisi mimpi buruk.
Wajahmu seperti kakak-kakak laki-lakimu. Hanya saja rambut dan dress itu membedakanmu. Membuat ibu berpikir, itu adalah kamu. Bukan sekadar anak perempuan yang datang sembarangan. Tetapi kamu, itu kamu, Galuh.

Galuhku sayang,
Mungkin karena ibu sering mendambakanmu, membawamu ke alam bawah sadar hingga kau muncul ke mimpi sebagai bunga mimpi. Manis sekali Galuh, kesayangan Ibu. Di dalam mimpi, entah apa yang kita lakukan pada saat itu, dan sepertinya kita sangat bahagia. Kau bersama ibu dan kakak-kakakmu, bermain dan berjalan, entah ke mana. Tetapi semua itu tidak penting. Yang penting kau ada waktu itu untukku.

Aku sering menginginkan anak perempuan dalam hidupku. Anak perempuan yang milikku. Darah daging ibu dan bapak sendiri. Raut wajahnya mirip ibu dan sifatnya mirip bapak. Jika ada yang melihat kau, dirimu, orang-orang akan tau bahwa kau anak bapak dan ibu. Pasti akan menyenangkan jika kita berlima menonton TV bersama, pergi ke pantai, bahkan hanya bergelut di tempat tidur berebut guling dan akhirnya kita yang menjadi guling itu.

Kalau digambarkan sebagai princess di Disney, kau jauh dari Snow White, apalagi Cinderela. Ibu bisa melihat Pocahontas dalam dirimu. Si kecil nakal. Anak manja yang periang. Kau adalah kesayangan kakak-kakakmu. Mereka akan selalu melindungimu.

Galuh, anak perempuanku,
Apakah kau sedang menungguku di sana? Di negeri di atas awan. Di atas langit, di mana Tuhan membangun istananya? Negeri yang berdiri bukan di atas tanah, melainkan di atas angan-angan manusia. Apakah kau bertemu kakek nenekmu di sana? Apakah mereka sudah bercerita padamu tentang rupa dan tabiat ibumu? Hahaa, Ibu harap kau hanya mendengar yang menyenangkan saja. Karena ibu sama sekali tidak sempurna, ibu takut tidak menjadi ibu yang baik untukmu.

Galuh tersayang,
Puteri kesayangan ibu yang tidak akan pernah ibu miliki. Maafkan ibu nak, tetapi, jangan tunggu ibu sayang. Maaf jika ibu mencintaimu tetapi tidak bisa memperjuangkanmu, sayang. Ibu akan selalu merindukanmu, menginginkanmu, mendambakanmu. Tetapi, ibu tidak bisa memilikimu. Akan terlalu banyak luka nantinya. Ibu takut tidak bisa mencintaimu apa adanya. Ibu tidak berani memimpikanmu lebih dalam. Karena ada harga yang tidak sanggup ibu bayar jika mengharapkan kau ada di sini. Ada akal sehat yang belum pulih, batin yang belum utuh, belum lagi letih yang tak berkesudahan. Jika kata orang, cinta itu jangan dibagi, tetapi sebaiknya dikalikan. Tetapi kenyataannya, yang dibagi itu juga waktu, perhatian. Dan yang dikalikan itu juga mencakup kekhawatiran, kelelahan, dan cucian baju.

Mungkin ini terdengar seperti sebuah alasan, tetapi ibu tidak bisa menawarkan apa pun selain cinta. Dan itu tidak akan cukup membuatmu bahagia di dunia ini nanti. Kau butuh ibu yang bermental kuat dan tubuh yang sehat untuk selalu ada untukmu. Ibu tau ibu tidak sendirian. Ada bapakmu yang juga selalu menantimu. Ketauilah, ia lebih mencintaimu dibanding ibu. 

Memang terkadang, ibu berpikir kedua kakak-kakakmu, para laki-laki ini, juga butuh saudara perempuan yang akan menampar mereka dengan kenyataan ketika mereka pergi ke arah yang tidak seharusnya. Tetapi Ibu tidak ingin melahirkanmu ke dunia hanya untuk membuatmu patah hati, seperti yang terjadi pada ibu saat ini. Mencoba menjadi mercusuar untuk saudara laki-laki ibu, tetapi kenyataannya jiwa kitalah yang semakin gelap dan kehabisan energi.

Semoga Tuhan memberikanmu ibu yang terbaik. Jika nanti kita berjumpa di dunia, marilah kita saling menyapa. Mungkin nanti kita akan sadar bahwa kita pernah bertemu di suatu tempat, di suatu mimpi, di mana kau mengamit tangan ibu dan tersenyum manis.

Sampai Jumpa Galuh tersayang.
Ibu sudah mencintaimu.
Selalu.


Comments

Popular posts from this blog

Om Tiatu (English Version)

 “Learn manners. You must greet anyone who comes to the house.” This advice began when my husband’s friend visited our home. My husband and his friend were chatting in front of the house until his friend asked permission to use the toilet. When I realized there was a guest on the terrace, I stopped folding clothes and went out to greet him, offering him lunch as well. Then my husband said that his friend just needed to use the toilet, so I led him inside and said, “ Kanggeang , the house is messy, sorry.” A polite phrase that must be said after offering food. Even if everything is tidy—no dirty dishes scattered, no crumbs from your kids, and the floor freshly mopped—those words are set as default in Bali, maybe even in all of Indonesia. And the guest, of course, is supposed to reply, “It’s okay, our house is the same.” When I first got married and lived in my husband’s village, I was surprised that we offered food to anyone who came to the house. Even if they came at the crack of d...

Om Tiatu

 "Belajarlah sopan santun. Kalian harus menyapa siapapun yang datang ke rumah." Wejangan ini diawali ketika teman suamiku berkunjung ke rumah. Suamiku dan temannya mengobrol di depan rumah sampai akhirnya temannya meminta ijin untuk meminjam toilet. Ketika menyadari ada tamu di teras, aku menghentikan aktifitasku melipat pakaian dan keluar menyapa si tamu dan sekedar menawari untuk makan siang di rumah. Lalu suamiku berkata bahwa ia meminta ijin ke toilet, aku pun mengantarkannya ke dalam rumah dan berkata " Kanggeang , rumahnya berantakan ya" Basa basi yang wajib dikatakan setelah menawari makanan. Walaupun semua sudah tertata rapi, tidak ada cucian piring yang berserakan, tidak ada makanan anakmu berceceran, dan lantai baru dipel tapi kata-kata itu sudah di set as default di Bali, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Dan tamu yang berkunjung sudah seharusnya berkata "Tidak apa-apa, rumah kami juga begitu" Ketika aku awal menikah dan tinggal di rumah sua...

How To Talk To God

“Always believe in God. Because there are some questions that even Google can’t answer.” ---- Anonymous I didn’t realize that praying is difficult for some people until I started working in international networking with people who come from many different countries and diverse cultures. Maybe because I was born and raised in a Hindu family in Bali, praying is so natural for me. This creates a question: How do you talk to God? For me, talking to God is easy. My father used to say that God knows all languages. Even if you are mute. You can say your prayers in your heart or whisper or maybe say out loud. And remember, God is not deaf. God takes many shapes and forms. God may just be a feeling for you or energy. God may be a tree or a flower. But how? Some people start to talk to God on social media. This is a good start as you can talk to God like you are sending an email. Here is a template:           Dear God,            ...