"Ibu! Ibu!"
Anak sulungku memegang pundakku untuk memberikan kenyataan yang menurutnya sangat hebat.
"Iya sayang?"
"Tau ga bu?
"Apa?"
"Pak Yan bisa minum kopi lho!"
Jeda yang ku berikan di antara matanya yang berbinar membuatku sadar bahwa ini adalah hal yang luar biasa baginya. Karena orangtuanya adalah orang dewasa yang bukan peminum kopi. Baginya, Kopi adalah minuman pahit yang hanya diminum oleh mereka para pemberani.
Kopi pahit.
Ia memang sangat lugu, yang ia tahu, kopi hanyalah pahit. Tidak ada rasa lain selain pahit dan pekat.
"Ah, begitu," responku datar.
Ia masih berbinar.
"Hebat kan!" lanjutnya, berharap aku akan mengubah reaksiku.
Aku hanya mengelus kepalanya dan tersenyum geli.
Dulu aku juga minum kopi. Seorang peminum kopi di hari minggu pagi sambil membaca komik dan beberapa biskuit. Hingga asam lambung datang.
Aku lupa kapan tepatnya aku mulai minum kopi. Mungkin bukan di rumah. Karena orangtuaku juga tidak rutin minum kopi. Tidak seperti kakekku, yang harinya tidak akan dimulai tanpa secangkir kopi. Atau seperti pamanku, yang jika tidak ada kopi ia akan migrain.
Seingat ku, pagi itu di sebuah pertunjukkan teater di Lovina. Yang diadakan oleh sebuah pabrik kopi terkenal di Utara. Mereka menyajikan kopi yang aromanya sangat enak. Hidungku tak berhenti mengendusnya karena ada aroma kacang di sana. Semua orang bolak-balik mengisi ulang gelas kertas mereka. Gelas kertas seukuran kecil karena hanya untuk testing saja terlihat sangat menggiurkan.
Aku yang waktu itu baru menginjak kelas 4 SD tanpa sadar menelan ludahku hingga mengeluarkan suara yang terdengar memalukan. Aku menatap ibuku untuk menimbang-nimbang, jika aku meminta ijin ibuku, apakah ia akan mengijinkanku meminum kopi?
Aku sempat berpikir untuk meminumnya diam-diam. Tapi, akan ku coba dulu. Kalau tidak diberi, baru aku akan mencuri-curi. Pikirku dalam hati.
"Bu," kataku sambil menarik ujung baju ibuku.
"Nggih,"
"Ng, boleh ga aku coba minum kopi itu," kataku ragu sambil menunjuk ke dispenser kopi yang dipenuhi orang-orang mengantri.
Ibuku menoleh ke arah yang ku maksud, lalu berbalik ke arahku.
"Cobalah," jawabnya santai sambil mengangkat bahunya pelan.
Tanpa perlawanan! Luar biasa.
Aku pun dengan sumringah bergegas menuju ke dispenser kopi untuk mengantri. Ibu menahan pundakku sebentar.
"Satu gelas kecil aja, nggih," Ku balas dengan anggukan yang antusias.
Antriannya lama-lama semakin pendek dan aroma kopinya semakin harum. Ku hirup dalam-dalam selama menunggu.
Akhirnya kopi di tanganku. Ku tahan rasa ingin tahuku untuk meminumnya bersama ibu. Ibu tidak banyak bereaksi. Ia hanya memperhatikanku dengan gelas kecil yang ku dekap erat-erat di tanganku. Ia tersenyum tipis.
Aku duduk di sebelah ibu, lalu ku hirup aromanya dalam-dalam. Kacang. Ku lihat kopi yang mengepul. Hitam agak cokelat. Karena panas, ku minum pelan-pelan.
Ah kopi pertamaku. Luar biasa!
Jujur sampai sekarang aku tidak bisa melupakan rasa kopi itu. Belum bisa ku temukan kopi itu lagi. Walaupun ku berburu merk dari pabrik kopi itu. Entah apanya yang berbeda. Entah memang kopinya atau suasana waktu itu bersama ibu.
Lalu aku mulai minum kopi lagi ketika kuliah. Lebih tepatnya ketika semester akhir. Sambil menulis skripsi dengan bab yang tak kunjung selesai. Kopi tubruk menemaniku.
Barangkali, aku memang hanya suka sensasi dewasa yang ditawarkan kopi. Karena peminum kopi terkesan dewasa. Mungkin setelah kopi pertamaku itu, aku terus mencari-cari rasa itu tanpa benar-benar menikmati kopi yang aku minum setelahnya. Aku merasa jika meminum lebih banyak kopi, mungkin rasa itu akan kembali.
Hingga dokter menyatakan aku sebaiknya tak minum kopi. Bahkan teh, Efek cafeine tidak baik untuk perutku. Sejak saat itu tidak ada kopi di sebelah laptopku. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku minum kopi. Mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Menariknya, aku sama sekali tidak merindukannya.
Seperti mantan pacarmu. Yang kau pikir akan sangat menyakitkan karena takkan bersama lagi. Yang kau sulit untuk lepaskan karena rasa itu sudah lama menemanimu. Nyatanya ketika berpisah, duka itu tak berlangsung lama.
Sekarang, aku hanya minum air. Sebotol air selalu menemaniku. Apapun makananku, minumanku selalu air putih. Yang tidak pahit, tidak manis.
Seseorang pernah bertanya.
"Apakah kopi di warung itu enak?"
"Oh, aku tidak tahu. Karena aku bukan peminum kopi,"
"Benarkah?" Ia terlihat terkejut dan menghakimi ku melalui matanya.
"Someone said, the one who doesn't drink coffee is the worst,"
Ia memberikan jeda sambil masih menatapku mengejek. Aku hanya mengerjapkan mataku sambil menata pikiranku setelah mendengar komentar buruknya. Belum sempat aku membalas, ia langsung tertawa merasa bersalah.
"Ah hahaha aku hanya bercanda," katanya mencoba untuk mencairkan suasana.
"Oh, It's Okay." jawabku sambil tersenyum melihat ia masih salah tingkah dengan leluconnya sendiri.
"I just don't care," lanjutku.
Sejak saat itu aku menyadari bahwa aku sudah cukup dewasa. Bukan karena kopi, tetapi karena aku sadar bahwa kata-kata semacam itu tidak akan menyakitiku. Dewasa itu adalah perasaan di mana kau merasa aman dan nyaman dengan dirimu sendiri. Tanpa menunggu seseorang berkata kau sudah dewasa. Dewasa itu bukan hanya tentang kopi, atau seberapa kuat kamu menegak minuman keras, sebanyak apa gajimu, apakah gadgetmu sudah update, atau mobil yang kau naiki.
Dulu, aku pikir setelah mendapatkan KTP - bukti telah dianggap dewasa oleh negara, aku bisa melakukan apapun yang orang dewasa biasanya lakukan. Aku meminta ajik untuk mengajakku ke Diskotik. Benar saja, kunjungan diskotik pertamaku diantar oleh kedua orangtua ku. Ajik memesan Mojito untukku.
"Turunlah dan berjoget," katanya santai sambil menunjuk ke dance floor. Orang-orang terlihat senang di sana. Tapi melihat mereka berdesak-desakan sambil berjoget membuatku agak bergidik. Aku turun. Untuk mengecek seberapa dewasa aku. Lantai dansanya berputar pelan. Semua terlihat menikmatinya. Tetapi aku tidak.
Jika dewasa yang mereka maksud adalah seperti ini, maka aku menolak untuk menjadi dewasa.
Lalu aku menepuk pundak orang itu.
“Mungkin kalau nanti kau sampai di usiaku, kau akan sadar bahwa semua itu memang tidak terlalu penting.”
Karena tidak ada kopi, tidak apa-apa.
Comments
Post a Comment