Bagaikan layang-layang putus. Terkesan bergegas. Padahal tidak tahu harus pulang pada siapa.
----
Aku ingin pulang.
Aku tak tahu apa pun tentang rumah.
Yang ku tahu, aku lahir di Bumi Utara.
Di jalan aku bertanya arah jalan pulang.
"Teruslah di jalan ini. Jalannya akan berliku. Kelak kau kan melewati dua bukit dan menyusuri hutan. Lewati dua danau. Maka di sanalah Utara, pulang yang kau maksud."
Lalu aku pun pergi,
Ke Utara.
Ke arah yang ia maksud.
Dengan sedikit tersesat,
Dan sedikit menggigil di tengah kabut.
Aku akhirnya pulang.
Pada rumah yang dulu kau huni.
Pada pasir hitam yang kau pijak.
Lalu aku sadar bahwa pulang yang selama ini ku maksud selama ini bukanlah Utara,
Tetapi kau.
Kau yang menyambutku penuh lega,
Kau yang membuatkanku sup jagung,
Kau yang membacakan buku terakhir yang kau baca,
Kau yang tak pernah menanyakan kabarku,
Sebagai gantinya, kau yang selalu berseru seberapa bahagianya aku.
Kau adalah pulang yang kumaksud.
Kau adalah rumah yang selama ini kubangun di alam bawah sadarku.
Kau adalah pelukan yang kuinginkan setiap pagi.
Kelak aku akan pulang.
Kembali bersamamu,
Aku tidak tahu tepatnya kapan.
Tetapi aku tahu bahwa aku akan pulang padamu.
Tabanan, 8 Mei 2026
Comments
Post a Comment