Padahal dulu, ketika ia masih di kandungan. Aku pernah berjanji bahwa anak-anakku harus lebih mengenal kakeknya sendiri daripada Einstein.
Lalu ia lahir.
Kemudian ada sekolah, pekerjaan, lego yang berserakan, cucian yang tak pernah selesai, adiknya pun lahir, kurang tidur, menyusui, jemuran yang tak pernah berakhir, events di the bridge, rumah, suami, banjar, dan seribu satu hal lainnya yang meminta perhatian setiap harinya.
Dengan bodohnya, aku sekarang malah lupa. Hingga janji kecil itu tertimbun oleh kehidupan.
***
Banyak yang menunggu ia datang ke dunia ini. Banyak yang sudah siap menyambutnya. Membuat rencana-rencana bahkan ketika bayi itu sendiri belum ada. Salah satunya adalah ayahku.
Ia berkata “Ajik akan miase selama menunggu cucu,”
Aku hanya tertegun. Bukannya pesimis. Aku hanya takut mengecewakan. Bagaimana kalau dari awal Tuhan tak pernah berniat untuk menitipkan sebuah jiwa padaku? Siapa saja yang akan kecewa setelah diriku?
Dua tahun berlalu. Ajik meninggal. Lalu dua minggu kemudian jiwa itu hadir. Muncul dari rasa frustasi karena kekecewaan terhadap hidup. Aku tak bisa memungkiri bahwa waktu itu aku memiliki krisis kepercayaan terhadap hidup.
Semua kata dokter, yang mengatakan cara untuk memiliki buah hati, adalah dengan cara;
Makan yang sehat, tidur yang cukup, jangan stress, bla bla bla.
Lalu anak ini lahir dari hidup yang sedang berantakan. Makan yang kacau di masa berkabung, jadwal tidur yang tak keruan, pikiran yang kalut, hatinya semrawut, dan air mata yang tak kunjung mengering.
Ia lahir bagaikan sebuah hadiah karena Tuhan bersimpati padaku. Ia diberikan untuk menata hatiku yang porak poranda. Ia memberikan harapan bahwa ia lahir untuk menggantikan yang pergi. Bayi ini, yang akan lahir dari rahimku memberikan semangat hidup. Kami pun kembali membuat daftar rencana. Tentang hal-hal yang harus diceritakan, tentang apa yang tidak usah diceritakan, apa yang boleh dilakukan, dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan.
Hingga aku berjanji pada bayi ini. Ketika geliatnya terasa di perutku, ketika tendangannya sampai di telapak tanganku. Aku berkata,
“Kelak kau lahir, ibu akan menceritakan tentang tupekak, Mahabharata, dan The Beatles. Tentang hal-hal yang ingin diceritakan tupekak-mu”
Wanita itu pun tersenyum. Ia juga membuat rencananya sendiri. Agenda tunini dan cucunya. Tentang resep sup jagung dan pohon kelor di kebun depan rumah. Tentang cucu pertama kesayangan nenek, yang rencananya akan diberikan kasih sayang yang tak kalah melimpah.
Namun, hidup kadang bisa menjadi sangat ironis. Ibuku sakit tiga bulan setelah ayahku meninggal. Dokter berkata penyakitnya begini dan begitu. Tetapi setahuku, ia terluka karena patah hati. Bukan penyakit yang bisa disembuhkan obat antibiotik apapun. Bagaimana aku bisa lupa ketika malam ia menangis karena ayahku yang meninggal setelah menyatakan cinta padanya.
“Bagaimana bisa ia berkata ia mencintaiku lalu pergi begitu saja?”
Aku tak bisa berkata apapun, karena tak ada kata penghiburan yang tepat untuk hati yang patah.
Mendengar ceritanya, aku bisa melihat bagaimana ibuku waktu itu. Terduduk. Menangis. Marah. Bingung. Dan masih jatuh cinta.
Sayang sekali, patah hatinya kali ini tidak main-main. Hari-hari terakhirnya habis terbaring selama 10 hari di rumah sakit. Suatu malam Ia menyentuh perutku lalu berkata,
“Sehat selalu cucuku sayang,” lalu besoknya ia meninggalkan kami beserta rencana-rencana yang telah ia buat. Untuk selama-lamanya.
Pagi itu aku teringat, duduk di kursi kamar rumah sakit. Dengan perutku yang besar dan bayi usia kandungan 6 bulan dengan air mata yang tak berhenti mengalir, aku menyaksikan mereka membungkus tubuh ibuku bahkan aku belum sempat melihat wajahnya.
Pagi itu aku masih belum bisa mencerna semuanya. Hanya air mata yang secara refleks mengalir. Sedangkan aku masih membisu dengan bayi yang sesekali menendangku untuk mengingatkanku apa yang sedang terjadi.
Hari di pemakaman, kain kafan dibuka. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihat wajah itu. Sekali lagi. Untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum. Aku tak kuasa menahan air mataku. Kenapa kau tersenyum? Sebahagia itukah kau karena akan menemui laki-laki itu? Ia yang kau ceritakan membuatmu jatuh cinta dan patah hati pada hari yang sama?
Di sana dadaku sakit. Merasa ditinggalkan.
Bagaimana aku tidak memiliki krisis kepercayaan terhadap hidup? Jika aku selalu dipermainkan hidup begini?
Sesedih apapun hati ini, hidup harus terus berjalan. Hari berganti dan bulan disambut. Kembali, hidup menjadi sebuah hadiah ketika bayi ini, anakku lahir di ulang tahun neneknya. Tunininya. Ibuku dan rencananya ternyata belum berakhir. Ia malah baru memulainya dengan merayakan ulang tahun bersama.
Aku tertawa dan menangis sekaligus. Entah ingin merayakannya atau mengenangnya. Aku memutuskan untuk melakukan keduanya.
***
Kali ini aku memutuskan untuk menceritakannya. Satu kisah. Satu kenangan tentang kakek nenek anak-anakku. Selama ini aku bukannya lupa, tetapi karena aku pikir, aku masih punya waktu. Nyatanya hidup tidak benar-benar memberikan waktu yang tepat.
Aku selama ini hanya beralasan.
Karena sebenarnya ingin melupakannya. Terkadang semua ini terlalu menyakitkan untuk dikenang. Dan jika aku menulisnya, aku tahu aku akan menangis di tiap halamannya. Lalu jika aku mulai membicarakannya, tenggorokanku akan tercekat, lidahku kelu, air mata akan mulai menggenang.
Aku masih ingin menceritakannya kok. Tentang ayah dan ibuku. Hanya saja aku bingung harus menceritakannya dari mana. Tetapi cerita ini sepertinya dibutuhkan olehku yang sekarang dibanding untuk anak-anakku.
Tabanan, 8 Juni 2026
Comments
Post a Comment